Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Juri Puisi Porsema Sebut Puisi adalah Soal Kejujuran Hati, Bukan Soal Pakaian

Juri Puisi Porsema Sebut Puisi adalah Soal Kejujuran Hati, Bukan Soal Pakaian

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
  • visibility 569
  • comment 0 komentar

Wonosobo — Ajang Lomba Cipta dan Baca Puisi Religi dalam Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII LP Ma’arif NU Jawa Tengah yang digelar di Wonosobo tak hanya menyajikan panggung ekspresi seni, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sastra. Hal ini ditegaskan oleh tim juri dari kalangan sastrawan Pati, yang memberikan catatan penting sebagai evaluasi bersama.

Seperti diketahui, Porsema XIII digelar di Kabupaten Wonosobo pada 10-13 September 2025. Salah satu cabang lomba bidang seni adalah puisi religi yang menghadirkan juri dari unsur penyair / sastrawan dan akademisi bidang bahasa dan sastra.

Dalam catatan resminya, salah satu juri puisi religi, Puji Pistols, menyampaikan keprihatinan atas kecenderungan peserta yang lebih sibuk menonjolkan gaya dibandingkan mendalami makna puisi. “Puisi itu dunia rasa, tapi dalam praktiknya banyak yang justru terjebak pada gaya,” ungkap sastrawan asal Kabupaten Pati tersebut.

Kesalahan Umum dalam Membaca Puisi
Salah satu kekeliruan yang banyak ditemukan adalah mendahulukan nada sebelum memahami makna. Peserta cenderung mengedepankan lengkingan suara dan intonasi dramatis, padahal isi puisinya belum sepenuhnya dikuasai. “Akhirnya, terdengar seperti orang karaoke yang salah pilih lagu: merdu tapi hampa,” katanya di sela-sela istirahat pada Jumat (12/9/2025).

Kesalahan lain yang disorot adalah pengubahan warna vokal. Banyak peserta memaksakan suara besar dengan membulatkan vokal secara tidak alami. Menurut Mbah Puji, suara terbaik adalah suara yang jujur, bukan yang dipaksa atau dipelintir.

Gestur tubuh yang berlebihan juga menjadi perhatian. Ada peserta yang tampil seperti sedang pentas tari alih-alih membaca puisi. Padahal, menurut juri, gerakan seharusnya hanya menjadi penguat ekspresi, bukan justru menutupi pesan yang ingin disampaikan.

Persaingan dalam hal kelantangan pun dinilai sebagai kesalahan. “Sebagian peserta mengira semakin keras semakin bagus. Akibatnya, ada puisi yang disampaikan seperti toa masjid subuh,” kritik juri dengan nada satir.

Inti dari pembacaan puisi, tegas mereka, adalah penyampaian makna, bukan sekadar volume suara.

Tak hanya itu, aspek penampilan juga ikut dikomentari. Sebagian peserta terlihat terlalu fokus pada kostum, seakan mengikuti peragaan busana. “Padahal, juri tidak menilai batik atau jas. Membaca puisi itu soal isi, bukan fashion show,” tambah mereka.

Catatan untuk Lomba Cipta Puisi
Tak hanya dari segi pembacaan, juri juga mencermati karya-karya cipta puisi yang dikirimkan. Tiga hal pokok menjadi catatan utama: kejujuran bahasa, kedalaman pengalaman hidup, dan kemampuan menjalin relasi dengan pembaca.

Menurut juri, puisi yang kuat lahir dari keintiman dan ketulusan kata, bukan dari sekadar tumpukan diksi indah yang kosong makna. “Puisi yang bernilai adalah yang berani menyentuh kebenaran, kehilangan, dan cinta,” tambahnya.

Lebih jauh, puisi yang baik harus mampu menciptakan relasi dengan pembaca. Imaji yang kuat dan narasi yang menyentuh akan membuat pembaca merasa diajak bicara, bukan hanya ditunjukkan poster kata-kata.

Catatan juri ini ditutup dengan pengingat bahwa puisi sejatinya bukan soal gaya berlebihan, kelantangan suara, atau pakaian yang rapi. “Pada akhirnya, puisi adalah soal kejujuran hati yang diolah menjadi bahasa,” tegas mereka.

Mengutip penyair besar W.S. Rendra, juri menekankan kembali esensi puisi: “Puisi bukanlah hiasan. Ia adalah suara hati yang menuntut kejujuran.”

Dengan catatan ini, juri berharap Porsema tidak hanya menjadi arena lomba, tetapi juga ruang pembelajaran dan refleksi bersama bagi para peserta, pendamping, hingga pegiat sastra secara umum. (Ibda)

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ma'arif NU Rembang Gelar Diklat Aswaja

    Ma’arif NU Rembang Gelar Diklat Aswaja

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 521
    • 0Komentar

      Hariannu.com Rembang – Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PCNU Rembang mengawali Diklat Aswaja NU setelah mengalami penyesuaian kurikulum dan materi-materi Diklat yang lebih relevan untuk diterapkan dalam madrasah/sekolah Ma’arif NU di Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama Kab. Rembang pada Jum’at dan Sabtu (10-11/10/2025). Diklat Aswaja diikuti oleh 72 peserta guru Ke-NU-an di […]

  • Porsema, Bincang Pendidikan Bahas Sako Pramuka Pandu Ma’arif NU dan Kemah Internasional

    Porsema, Bincang Pendidikan Bahas Sako Pramuka Pandu Ma’arif NU dan Kemah Internasional

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 462
    • 0Komentar

    Wonosobo – Di tengah padatnya agenda Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII tahun 2025 di Kabupaten Wonosobo, pengurus Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jateng tetap menyempatkan diri menggelar Bincang Pendidikan yang membahas perkembangan Satuan Komunitas (Sakoma) Ma’arif NU dan persiapan Kemah Internasional untuk Perdamaian dan Kemanusiaan di Eagle Hotel Wonosobo pada Kamis (11/9/2025). […]

  • Harlah Ke-20 Almadina, Wujud Syukur Dua Dekade Mengabdi untuk Pendidikan

    Harlah Ke-20 Almadina, Wujud Syukur Dua Dekade Mengabdi untuk Pendidikan

    • calendar_month Sab, 20 Jun 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 161
    • 0Komentar

    WONOSOBO – Yayasan Almadina Wonosobo memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-20 dengan menggelar kegiatan Almadina On The Road (OTR) di Alun-Alun Wonosobo, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum syukur atas perjalanan dua dekade Almadina dalam berkontribusi membangun pendidikan dan mencetak generasi berkarakter. Ribuan peserta yang terdiri atas pengurus yayasan, dewan guru, tenaga kependidikan, wali murid, serta […]

  • Di Hadapan PCNU se-Jawa Tengah, Gus Rozin Nyatakan Maju di Muktamar ke-35 NU

    Di Hadapan PCNU se-Jawa Tengah, Gus Rozin Nyatakan Maju di Muktamar ke-35 NU

    • calendar_month Kam, 16 Jul 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 134
    • 0Komentar

    SALATIGA – Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menyatakan niatnya untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung di hadapan para Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah dalam agenda silaturrahim di Salatiga, Rabu (15/7/2026) malam. Forum […]

  • Rakerda dan Tasyakuran Harlah ke-96: LP Ma’arif NU Pati Perkuat Rencana Strategis

    Rakerda dan Tasyakuran Harlah ke-96: LP Ma’arif NU Pati Perkuat Rencana Strategis

    • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 427
    • 0Komentar

      hariannu.com – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pati, mengadakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang diikuti oleh kepala madrasah tingkat MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA/SMK, di Hotel New Merdeka, Rabu (17/9/2025). Kegiatan tersebut juga dalam rangka tasyakuran dan peringatan Hari Lahir (Harlah) LP Ma’arif NU yang ke-96 tahun, dengan tema “bermutu dalam ilmu, […]

  • Sarbumusi Pati: UU PPRT Harus Direspon Pemda untuk Bentuk Aturan Turunan

    Sarbumusi Pati: UU PPRT Harus Direspon Pemda untuk Bentuk Aturan Turunan

    • calendar_month Rab, 22 Apr 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 242
    • 0Komentar

      Pati – Rancangan Undang-undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) akhirnya disahkan menjadi undang-undang (UU). Pengesahan ini setelah melewati proses panjang selama 22 tahun. Pengesahan UU PPRT ini pun disambut gembira oleh sejumlah pihak. Tak terkecuali Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kabupaten Pati. Namun, mereka tak mau aturan tersebut mandul. […]

expand_less