Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » ‎Dosen INISNU Temanggung Bedah Disorientasi Imperialisme Global dalam Seminar Internasional bersama Tezpur University

‎Dosen INISNU Temanggung Bedah Disorientasi Imperialisme Global dalam Seminar Internasional bersama Tezpur University

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Jum, 13 Feb 2026
  • visibility 339
  • comment 0 komentar

‎
‎Temanggung – Dr. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H., dosen sekaligus Direktur Program Pascasarjana Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, memaparkan materi krusial mengenai dinamika kekuasaan dunia dalam seminar internasional bertajuk “Disorientation of Global Imperialism”. Presentasi ini menyoroti bagaimana pola penjajahan telah berevolusi dari pendudukan fisik menjadi kontrol digital dan ekonomi yang kerap tidak disadari oleh masyarakat modern.
‎
‎Hal itu terungkap dalam International Seminar with Tezpur Collage, Assam, Indonesia bertajuk “War and The Global Economy Impact” di kampus Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman (GUPPI) Undaris Semarang, Kamis (12/2/2026).
‎
‎Dalam paparan materinya, Dr Syakur menyampaikan salah satu poin paling menarik yang disampaikan adalah kontradiksi antara makna bahasa dan realitas sejarah istilah imperialisme (dalam bahasa Arab disebut Al-Isti’mar).
‎
‎Makna teologis dan linguistiknya berakar dari kata amara yang berarti “memakmurkan” atau “membangun”. Hal ini merujuk pada QS. Hud: 61, di mana manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi.
‎
‎Namun dalam realitas sosiopolitik, Dr. Syakur menegaskan bahwa imperialisme justru tidak memiliki hubungan dengan upaya memakmurkan. Sebaliknya, ia menjadi instrumen bagi negara atau kelompok terorganisir untuk menguasai wilayah, sumber daya, dan penduduk secara sistematis.
‎
‎Dr. Syakur menjelaskan bahwa imperialisme tidak lagi identik dengan ekspansi militer atau pendudukan wilayah secara langsung. Ia mengalami transformasi dalam tiga fase utama.
‎
‎Pertama, imperialisme klasik, yakni kolonialisme melalui pendudukan teritorial secara langsung.
‎
‎Kedua, imperialisme modern, yang beroperasi melalui dominasi ekonomi, penetrasi budaya, kontrol media, serta ketergantungan teknologi.
‎
‎Ketiga, imperialisme digital, sebagai bentuk mutakhir yang mengontrol data, algoritma, infrastruktur platform global, serta arus informasi lintas negara.
‎
‎Seminar ini juga menyoroti adanya fenomena “disorientasi”, yaitu ketika praktik penjajahan gaya baru dibungkus dengan narasi yang tampak positif.
‎
‎Eksploitasi ekonomi sering dilakukan atas nama investasi.
‎
‎Homogenisasi budaya dipromosikan atas nama globalisasi.
‎
‎Intervensi politik dijalankan dengan dalih penegakan demokrasi dan hak asasi manusia.
‎
‎Kondisi inilah yang disebut sebagai disorientasi imperial global, ketika kemajuan dan modernitas menjadi retorika yang menutupi ketimpangan struktural dan ketergantungan sistemik.
‎
‎Imperialisme gaya baru membawa dampak signifikan, khususnya bagi institusi pendidikan dan negara berkembang.
‎
‎Dalam konteks akademik, muncul hegemoni kurikulum dan riset, di mana standar publikasi dan metodologi global sering kali meminggirkan pengetahuan lokal serta tradisi intelektual berbasis komunitas.
‎
‎Sementara itu, pada tingkat negara, ketergantungan terhadap pasar global dan teknologi asing berpotensi melemahkan kedaulatan nasional secara struktural.
‎
‎Sebagai penutup, Dr. Syakur menegaskan bahwa universitas seperti INISNU Temanggung harus mengambil peran strategis sebagai pusat kesadaran kritis dan pembebasan intelektual.
‎
‎Peran tersebut mencakup pengembangan keilmuan yang kontekstual dan kritis, penguatan riset berbasis kebutuhan masyarakat lokal, serta pembangunan etika akademik yang berpihak pada keadilan dan kedaulatan pengetahuan.
‎
‎Dijelaskan Syakur, bahwa imperialisme global bukanlah fenomena masa lalu. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, sistemik, dan canggih. Melalui forum akademik internasional ini, INISNU Temanggung menunjukkan komitmennya untuk terus mendorong pemikiran kritis dan membangun kesadaran intelektual dalam menghadapi hegemoni global yang merugikan.
‎
‎Dalam acara sama, Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung bersama 8 perguruan tinggi lain di Jateng dan DIY melakukan kerjasama ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU)  dan Memorandum of Agreement (MoA) pada rangkaian kegiatan tersebut.
‎
MoU diteken oleh Rektor Inisnu Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., dengan Principal of Tezpur College, Assam, India Dr. Manoj Kumar Hazarika. Sedangkan MoA dilakukan oleh Direktur Program Pascasarjana Inisnu Dr. Muhammad Syakur, M.H., Dekan FSHEI Inisnu Dr. Sumarjoko, M.S.I., Dekan FTK Inisnu Yenny Aulia Rachman, M.Pd. Hadir pula Wakil Rektor III INISNU Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I.‎ (*)

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kunjungi PWNU Jawa Tengah; AsCare Jepang, Tsubasa TC Jepang & Konsultan Hajime Jepang Sepakati Kerjasama.

    Kunjungi PWNU Jawa Tengah; AsCare Jepang, Tsubasa TC Jepang & Konsultan Hajime Jepang Sepakati Kerjasama.

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 97
    • 0Komentar

    PWNU Jawa Tengah kembali membuka peluang baru bagi lulusan Sekolah Ma`arif untuk meningkatkan skill dan kompetensi serta peluang bekerja di Jepang. Demikian mengemuka dalam diskusi antara PWNU Jawa Tengah, LP Ma`arif NU Jateng, saat menerima kunjungan rombongan dari ASCare Jepang, Tsubasa Jepang, dan LPK Hajime Sinergi Indonesia yang digelar di Kantor PWNU Jawa Tengah, Selasa […]

  • *Fantastis! Olimpiade Sains dan Ke-NU-an (OSKANU IV) Ma'arif NU Jawa Tengah Tembus 8.902 Peserta, Digelar Mandiri dan Terintegrasi Penuh dengan SIMNU

    *Fantastis! Olimpiade Sains dan Ke-NU-an (OSKANU IV) Ma’arif NU Jawa Tengah Tembus 8.902 Peserta, Digelar Mandiri dan Terintegrasi Penuh dengan SIMNU

    • calendar_month Jum, 21 Agu 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 122
    • 0Komentar

    ​SEMARANG – Gelaran Olimpiade Sains dan KeNUan Ma’arif NU Jawa Tengah (OSKANU IV) tahun 2026 yang diselenggarakan LP Ma’arif NU Jawa Tengah resmi mencatatkan rekor baru dengan lonjakan jumlah peserta. Pendaftaran yang resmi ditutup pada Rabu, 19 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB melalui sistem aplikasi terpadu SIMNU, mencatat angka partisipasi spektakuler yang menembus 8.899 peserta—bahkan […]

  • Mageri Laut Wujud Nyata dari SMAN 1 Tayu

    Mageri Laut Wujud Nyata dari SMAN 1 Tayu

    • calendar_month Jum, 17 Okt 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 404
    • 0Komentar

      Hariannu.com Pati – SMAN 1 Tayu berhasil meraih predikat sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat provinsi pada tahun 2025. Predikat ini menjadi bukti komitmen sekolah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang bersih, hijau, serta berwawasan lingkungan. Sebagai tindak lanjut atas pencapaian tersebut, SMAN 1 Tayu melaksanakan kegiatan penanaman mangrove (Mageri Laut) pada Rabu, 15 Oktober 2025, bertempat […]

  • ​'Nyanyian Pesisir': Warisan 194 Puisi Aloeth Pathi yang Tak Lekang Oleh Zaman

    ​’Nyanyian Pesisir’: Warisan 194 Puisi Aloeth Pathi yang Tak Lekang Oleh Zaman

    • calendar_month Ming, 13 Sep 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 49
    • 0Komentar

    ATI — Ratusan kenangan tentang penyair Aloeth Pathi kembali dihidupkan melalui doa, puisi, musik, dan buku. Memperingati 100 hari wafatnya almarhum, Gandrung Sastra Pati menggelar doa bersama sekaligus meluncurkan buku kumpulan puisi bertajuk Nyanyian Pesisir di Rumah Gandrung Sastra, Desa Sekarjalak, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Sabtu (13/9/2026) malam. ​Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.30 hingga […]

  • Suluk Alif, Warisan Literasi Kritis Syekh Mutamakkin Kajen yang Memadukan Tauhid dan Budaya Jawa

    Suluk Alif, Warisan Literasi Kritis Syekh Mutamakkin Kajen yang Memadukan Tauhid dan Budaya Jawa

    • calendar_month Rab, 25 Mar 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 278
    • 0Komentar

      hariannu.com – Tradisi manuskrip di wilayah Kajen, Pati, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin dari keberislaman masyarakat Jawa yang khas. Filolog Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Taufiq Hakim, mengungkapkan bahwa Islam di wilayah ini diresapi secara konvergen dan vernakular, menggabungkan ketauhidan yang kokoh dengan ekspresi rasa dan simbol budaya lokal. ​Poros dari peradaban Jawa-Muslim di […]

  • Dari Rembulan ke Langit: Suluk Maleman dan Pencarian Makna Ketuhanan

    Dari Rembulan ke Langit: Suluk Maleman dan Pencarian Makna Ketuhanan

    • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

      hariannu.com – Pemahaman manusia tentang Tuhan, karena perbedaan sudut pandang, acap menjadi rumit dalam banyak pembahasan. Masalah inilah yang mencoba dibedah di forum NgAllah Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia. Awalnya Anis Sholeh Ba’asyin menggaris-bawahi bahwa apa yang disebut ateisme bukanlah gejala baru. “Dalam sejumlah teori, ditegaskan bahwa […]

expand_less