Suluk Alif, Warisan Literasi Kritis Syekh Mutamakkin Kajen yang Memadukan Tauhid dan Budaya Jawa
- account_circle Harian NU
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar

Suluk Alif, Warisan Literasi Kritis Syekh Mutamakkin Kajen yang Memadukan Tauhid dan Budaya Jawa
hariannu.com – Tradisi manuskrip di wilayah Kajen, Pati, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin dari keberislaman masyarakat Jawa yang khas. Filolog Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Taufiq Hakim, mengungkapkan bahwa Islam di wilayah ini diresapi secara konvergen dan vernakular, menggabungkan ketauhidan yang kokoh dengan ekspresi rasa dan simbol budaya lokal.
Poros dari peradaban Jawa-Muslim di Kajen ini tak lepas dari sosok Syekh Mutamakkin. Pangeran asal Tuban sekaligus waliyullah ini membangun fondasi literasi yang kritis dan kontemplatif sejak awal abad ke-18, sebuah era yang terekam jelas dalam arsitektur Masjid Kajen.
Salah satu bukti otentik dari ajaran Syekh Mutamakkin adalah Suluk Alif. Manuskrip yang ditulis oleh santri kesayangan beliau, Syekh Abdul Karim Al Haj, menggunakan aksara Pegon dalam bentuk tembang Macapat.
”Suluk Alif memuat riwayat perjuangan hingga ilmu-ilmu yang diajarkan Syekh Mutamakkin, yang sangat lekat dengan nuansa tradisi Jawa klasik seperti wayang,” ujar Taufiq Hakim, Selasa (24/3/2026).
Secara turun-temurun, manuskrip ini rutin ditembangkan dalam peringatan Haul 10 Syuro di Kajen. Namun, tradisi lisan ini sempat terhenti pada tahun 1950-an karena minimnya generasi yang mampu menembangkannya.
Dalam Suluk Alif, Syekh Mutamakkin menggunakan lakon wayang Dewa Ruci sebagai media dakwah. Beliau mengajarkan masyarakat untuk membaca keadaan melalui parameter kawruh-penggalih (pengetahuan dan kedalaman hati), bukan sekadar mengejar viralitas atau retorika.
“Manuskrip Suluk Alif yang memuat riwayat dan keilmuan Syekh Mutamakkin menjelaskan itu semua. Bahwa ‘sangkan’ manusia adalah makhluk spiritual, sedangkan ‘paran’-nya ialah kejernihan niat, keteguhan batin, konsistensi antara pikiran, perasaan, dharma dan terhadap sesama,” ungkap Taufiq Hakim.
Inti dari ajaran tersebut dirangkum dalam bait tembang yang menekankan pentingnya penyucian jiwa.
“Aja mungsi Wêrkudara/ Iya dudu ênggone agêgampil/ luwih bangêt angèlipun/ Tan kêna salah tarka/ Amung ati putih kang katon wahu/ Singgahna ning irêng abang/ têtêpana ingkang putih//”
Artinya: Jangan tergesa-gesa, Werkudara. Sebab jalan itu tidak mudah dilalui, bahkan jauh lebih sukar. (Engkau) tidak boleh salah sangka. Hanya hati putihlah tampak sejati, singkirkanlah yang kuning, hitam dan merah. Teguhkanlah yang putih.
Menurut Taufiq, laku keagamaan yang diajarkan Syekh Mutamakkin adalah bentuk tanggung jawab sosial-ontologis. Manusia dipandang sebagai makhluk spiritual yang tujuannya (paran) adalah kejernihan niat dan konsistensi antara pikiran, perasaan, serta dharma kepada sesama.
Upaya membedah kembali Suluk Alif bukanlah bentuk nostalgia semata, melainkan upaya menemukan “peta jalan” yang aktual untuk menghadapi tantangan masa depan dengan batin yang teguh dan identitas yang tidak membeku.
“Ajaran ini berakar pada tradisi, berorientasi pada penghayatan, serta bertanggung jawab secara sosial-ontologis. Ini bukan nostalgia, tetapi peta jalan yang selalu diaktualisasikan untuk menghadapi masa depan. Wallaahu a’lamu bish-shawaab,” tandas dia. (Angga/LTN)
- Penulis: Harian NU
