Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Hari Santri Momentum Bersama Santri, Pesantren, dan Bangsa untuk Terus Maju

Hari Santri Momentum Bersama Santri, Pesantren, dan Bangsa untuk Terus Maju

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
  • visibility 370
  • comment 0 komentar

 

Hariannu.com. Semarang — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi harus menjadi momentum refleksi dan kemajuan bagi pesantren, santri, dan seluruh umat Islam Indonesia.

Dalam arahannya di Gedung PWNU Jawa Tengah, Jalan dr Cipto No 180 Semarang, Gus Rozin—sapaan akrabnya—mengajak seluruh elemen bangsa untuk memahami kembali sejarah penting yang kerap dilupakan dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia, yakni peran santri dan pesantren melalui Resolusi Jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945 oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Sejarah pernah melupakan peran besar santri dan pesantren dalam perjuangan bangsa ini. Padahal, tanpa Resolusi Jihad yang lahir pada 22 Oktober, tidak akan ada peristiwa 10 November yang selama ini diagungkan sebagai Hari Pahlawan,” ujarnya.

Gus Rozin menilai bahwa banyak bagian dari sejarah perjuangan bangsa yang secara perlahan terhapus dari ingatan publik dan bahkan dari buku-buku pelajaran di sekolah.

“Kita seperti mengalami masa di mana narasi besar perjuangan santri dan kiai tidak mendapat tempat yang semestinya. Padahal, kalau kita lihat lebih dalam, pertempuran 10 November di Surabaya tidak akan terjadi tanpa seruan jihad yang digelorakan oleh para ulama,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa Resolusi Jihad yang disampaikan kepada Presiden Soekarno saat itu tidak muncul begitu saja. Ada proses panjang dan koordinasi yang melibatkan banyak kiai dan pesantren dari berbagai daerah. Setelah fatwa jihad itu keluar, para santri dan masyarakat bergerak dari seluruh penjuru Jawa, mengumpulkan senjata sederhana, bahkan menyiapkan bambu runcing yang didoakan secara khusus di berbagai tempat seperti Parakan Temanggung dan Sumolangu Kebumen.

“Bayangkan, antara 22 Oktober hingga 10 November ada rentang waktu yang digunakan untuk menghimpun kekuatan. Dari Buntet, Sumolangu, hingga Surabaya, mereka berjalan kaki atau naik kendaraan seadanya. Semuanya dilakukan demi memenuhi seruan jihad yang hukumnya fardhu ‘ain,” tutur pengasuh pesantren Maslakul Huda, Kajen Pati ini.

Menurutnya, perjuangan itu menunjukkan betapa besar peran santri dan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Kalau tidak ada Resolusi Jihad, belum tentu ada pertempuran 10 November. Dan kalau tidak ada 10 November, belum tentu kemerdekaan kita bisa bertahan. Maka, peran NU, pesantren, dan santri sangat sentral dalam sejarah bangsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gus Rozin menekankan bahwa Hari Santri tidak boleh dimaknai secara eksklusif sebagai milik Nahdlatul Ulama semata.

“Dalam penyusunan Resolusi Jihad, KH Mansyur yang mewakili Muhammadiyah juga turut menjadi bagian penting. Maka Hari Santri adalah milik seluruh umat Islam Indonesia, bukan hanya NU,” tegasnya.

Ia pun mengajak agar peringatan Hari Santri dijadikan sarana memperkuat kolaborasi antarormas Islam dan elemen masyarakat lain.

“Yang berjuang di Surabaya waktu itu bukan hanya santri, tapi juga masyarakat umum. Ini momentum yang harus kita rayakan bersama sebagai simbol persatuan,” tambahnya.

Selain menyoroti nilai sejarah, Gus Rozin juga mengingatkan pentingnya menjadikan Hari Santri sebagai pendorong kemajuan konkret di lingkungan pesantren.

“Kita jangan berhenti hanya pada upacara atau kirab. Hari Santri harus menjadi ukuran kemajuan kita. Misalnya, tahun ini pesantren punya satu asrama, tahun depan dua. Atau santri yang TOEFL-nya 400, tahun depan naik jadi 500. Artinya, setiap Hari Santri harus ada capaian nyata yang kita rayakan,” paparnya.

Menurutnya, peringatan Hari Santri ke-10 tahun ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan capaian pesantren sekaligus menyusun target ke depan.

“Jangan hanya merayakan keberhasilan para pendahulu, tetapi juga menyiapkan masa depan yang lebih baik. Kita mensyukuri perjuangan para kiai, tapi juga harus sadar terhadap tugas yang belum selesai,” pesan Gus Rozin.

Ia menambahkan, kesadaran sejarah dan semangat kemajuan itu perlu terus ditanamkan di seluruh pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam.

“Selain 17 Agustus, sekarang kita punya momentum penting lain yaitu 22 Oktober. Di setiap pesantren, madrasah, dan kantor NU, mari rayakan Hari Santri dengan semangat kebersamaan, karena ini adalah milik kita semua, milik bangsa Indonesia,” pungkasnya.

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pesantren Sudah Setara dalam Sistem Pendidikan, Mengapa Belum Setara dalam Pendanaan?

    Pesantren Sudah Setara dalam Sistem Pendidikan, Mengapa Belum Setara dalam Pendanaan?

    • calendar_month Rab, 3 Jun 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Jakarta — Majelis Masyayikh menegaskan bahwa negara wajib membiayai pendidikan pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Pandangan tersebut disampaikan dalam sidang pengujian Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren pada Perkara Nomor 75/PUU-XXIV/2026 Rabu 3 Juni 2026 di Mahkamah Konstitusi. Ketua Majelis Masyayikh, Abdul Ghofarrozin, menyatakan bahwa persoalan utama Pasal 48 UU Pesantren bukan […]

  • SMK NU Entrepreneur Uji Sertifikasi Kompetensi Siswa bersama LSP P2 Ma’arif Jateng

    SMK NU Entrepreneur Uji Sertifikasi Kompetensi Siswa bersama LSP P2 Ma’arif Jateng

    • calendar_month Rab, 26 Feb 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 908
    • 0Komentar

    Hariannu.com.Tegal – Uji Kompetensi Keahlian (UKK) peserta didik merupakan salah satu kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa SMK kelas XII. Selain sebagai kewajiban, kegiatan ini juga memberikan nilai tambah bagi siswa sebagai bekal untuk bersaing di dunia kerja. Dalam hal ini, SMK NU Entrepreneur 01 Lebaksiu Kab. Tegal menggandeng LSP P2 Ma’arif Jateng untuk pelaksanaan […]

  • LP. Ma’arif NU Jateng Jajaki Kerjasama dengan Atase Pendidikan KBRI Malaysia

    LP. Ma’arif NU Jateng Jajaki Kerjasama dengan Atase Pendidikan KBRI Malaysia

    • calendar_month Sel, 14 Jan 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Hariannu.com- Malaysia – Sekretaris LP Ma’arif Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Tengah, Dr M Ahsanul Husna melakukan kunjungan ke luar negeri, bertemu dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Malaysia Prof Muhammad Firdaus di Kuala Lumpur Malaysia, Selasa (14/1/2025). Diskusi dengan Atase pendidikan KBRI Malaysia menjajaki Kerjasama dengan LP Ma’arif Jawa Tengah dalam hal studi lanjut, para […]

  • Diskusi Publik, Gus Ulil Wonosobo Sebut Sistem Khilafah bukan Produk Alquran

    Diskusi Publik, Gus Ulil Wonosobo Sebut Sistem Khilafah bukan Produk Alquran

    • calendar_month Sen, 2 Jun 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 702
    • 0Komentar

    Hariannu.com-Temanggung – – Dalam rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila, Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Temanggung menggelar Diskusi Publik bertajuk “Temanggung Untuk Semua: Di Bawah Naungan Pancasila, Dari Temanggung untuk Indonesia,” pada Minggu (1/6/2025) di Pendopo Pengayoman Temanggung. Sebelum diskusi publik dimulai, kegiatan diawali dengan Deklarasi Kembali Ke Pangkuan NKRI yang […]

  • Mageri Laut Wujud Nyata dari SMAN 1 Tayu

    Mageri Laut Wujud Nyata dari SMAN 1 Tayu

    • calendar_month Jum, 17 Okt 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 404
    • 0Komentar

      Hariannu.com Pati – SMAN 1 Tayu berhasil meraih predikat sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat provinsi pada tahun 2025. Predikat ini menjadi bukti komitmen sekolah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang bersih, hijau, serta berwawasan lingkungan. Sebagai tindak lanjut atas pencapaian tersebut, SMAN 1 Tayu melaksanakan kegiatan penanaman mangrove (Mageri Laut) pada Rabu, 15 Oktober 2025, bertempat […]

  • Daripada Pidato, Peserta Lebih Suka Berkhotbah

    Daripada Pidato, Peserta Lebih Suka Berkhotbah

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle Harian NU
    • visibility 545
    • 0Komentar

    Semarang – Dalam perlombaan Pidato Bahasa Indonesia MI/SD dan MTs/SMP Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah di Kabupaten Semarang, juri berkomentar peserta masih terjebak ke dalam khotbah daripada pidato. Hal itu diungkapkan Dr. S. Prasetyo Utomo juri Lomba Pidato Bahasa Indonesia MI/SD dan MTs/SMP di sela-sela lomba. […]

expand_less