Malam di Bumi Tamiang: Langkah Awal Relawan NU Peduli Menyemai Harapan
- account_circle Harian NU
- calendar_month Sel, 13 Jan 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar

Malam di Bumi Tamiang: Langkah Awal Relawan NU Peduli Menyemai Harapan
Malam belum sepenuhnya usai ketika rombongan relawan NU Peduli PWNU Jawa Tengah akhirnya tiba di Bumi Tamiang pada pukul 20.30 WIB. Wajah-wajah lelah terlihat jelas setelah perjalanan panjang, namun semangat tetap terjaga. Di bawah langit Aceh yang tenang, langkah pertama misi kemanusiaan resmi dimulai.
Tanpa banyak jeda, para relawan langsung mempersiapkan perjalanan lanjutan menuju lantai Pondok Pesantren MUQ, yang menjadi titik singgah sekaligus pusat koordinasi sementara. Tas-tas logistik diturunkan, perlengkapan disusun, dan sebagian relawan membersihkan area untuk beristirahat sejenak.
Di tengah kesibukan itu, Ketua Relawan NU Peduli PWNU Jawa Tengah, Kang Mukhlisin, tampak sibuk melakukan koordinasi. Dengan suara tenang namun tegas, ia membagi tugas dan memastikan seluruh relawan siap menjalani hari pertama kegiatan di wilayah Aceh Timur.
“Mulai besok kita langsung bergerak. Fokus kita dapur umum, pembangunan TPQ, dan trauma healing. Semua bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing,” ujar Kang Mukhlisin di sela pengarahan malam.
Meski waktu menunjukkan malam hari, rapat singkat tetap digelar. Peta lokasi dibentangkan, alur kerja disepakati, dan jadwal awal ditetapkan. Ada yang menyiapkan peralatan dapur umum, ada yang memeriksa bahan bangunan untuk TPQ, dan ada pula yang mempersiapkan materi pendampingan psikososial bagi anak-anak korban banjir.
Bagi para relawan, malam di Bumi Tamiang bukan sekadar waktu istirahat. Ia menjadi ruang menyatukan niat, meneguhkan komitmen, dan menguatkan langkah sebelum terjun langsung ke masyarakat. Di antara lelah dan kantuk, terselip doa agar esok hari berjalan lancar.
Misi kemanusiaan ini akan diawali dengan pembangunan dapur umum, pembangunan TPQ, serta kegiatan trauma healing bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Aceh Timur. Seluruh relawan akan bekerja sesuai peran masing-masing, berlandaskan amanah dan semangat gotong royong.
Malam itu, di lantai Pondok Pesantren MUQ, harapan perlahan disusun. Dan ketika fajar menyingsing, relawan NU Peduli siap bergerak—membawa kepedulian, memulihkan luka, dan menghadirkan harapan baru bagi masyarakat Aceh Timur.. (hsn)
- Penulis: Harian NU
