Suluk Maleman Kali Ini; Asal Allah Tak Murka
- account_circle Harian NU
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar

Suluk Maleman Kali Ini; Asal Allah Tak Murka
Hariannu.com Kisah di balik doa Rasulullah di Thaif memberi pelajaran penting bagi umat muslim. Selain mengajarkan kasih sayang, juga agar tidak mudah terpengaruh omongan orang. Kisah tersebut menjadi salah satu bahan refleksi yang diangkat dalam gelaran Suluk Maleman pada Sabtu (19/9).
Anis Sholeh Ba’asyin mengungkapkan ada cerita penuh makna dibalik doa itu. Dia menceritakan saat itu nabi berusia 50 tahun dan harus menghadapi tantangan besar saat harus berdakwah.
“Saat itu ditolak terus menerus. Bahkan di waktu haji disebarkan rumor jika Nabi adalah ahli sihir sehingga warga harus menutup kupingnya bila bertemu beliau. Kala itu nabi juga kehilangan dua orang yang selalu mendukungnya dalam berdakwah, yakni Abu Tahlib dan Khadijah,” imbuh dia.
Saat itu rasul kemudian memilih mencoba berdakwah ke Thaif. Berjalan kaki dengan lokasi yang begitu jauh serta berupa gunung berbatu.
“Di Thoif juga menerima penolakan. Bukan hanya penolakan, tapi untuk menghinakan, anak-anak kecil yang disuruh melempari beliau dengan batu. Pada saat terpuruk itulah nabi berdoa,” imbuh dia.
Mendengar doa itu, malaikat Jibril bahkan bergetar hingga menawarkan membalikkan gunung agar menelan Thaif seisinya. Namun tawaran itu justru ditolak nabi lantaran begitu sayangnya dengan sesama manusia.
Peristiwa tersebut juga menekankan bahwa manusia harus melampaui naluri dasar hewan, dengan berfokus pada belas kasih dan empati terhadap seluruh umat manusia bahkan orang yang memusuhinya, bukan hanya keluarga sendiri atau orang dekatnya saja.
Kecuali itu, peristiwa itu juga mengajarkan umat muslim untuk tidak pernah ragu atau berhenti hanya gara-gara sudut pandang dan perilaku orang lain.
“Kalau memikirkan dengan segenap pemikiran bahwa yang dilakukan itu benar, jangan sekali-kali menjual itu hanya karena ingin dipuja manusia. Persoalan terbesar karena sering kali di kehidupan ini kita dikendalikan pemikiran orang lain. Takut melakukan sesuatu yang dianggap benar karena khawatir orang lain tidak suka,” ujar dia.
Apalagi di zaman keberisikan media sosial seperti sekarang, di mana gangguan-gangguan narasi media acap digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu substansial yang dihadapinya.
Anis berujar, ada hadis yang menceritakan jika orang memegang kebenaran seperti memegang api. Banyak yang tidak kuat dan melemparnya.
“Ada masanya kita tidak peduli dengan pemikiran orang lain, yang penting Allah tidak murka,” ujar dia.
Anis menyebut ada dua hal yang sebenarnya bisa dilakukan umat muslim saat ini, yakni khauf dan raja’. Dia menyebut hal itu seperti halnya beribadah seolah-olah melihat Allah atau jika tidak bisa selalu merasa dilihat Allah.
“Kalau masuk ke suatu tempat banyak CCTV pasti kita akan berhati-hati atau sehingga kita merasa semua terasa serba sempit. Itulah sumber khauf. Sementara jika bisa seolah-olah melihat Allah, pasti akan memunculkan harapan kuat, menjadikan semua terasa luas. Itulah sumber raja’. Prose perluasan dan penyempitan adalah sepasang sayap yang membuat kita bisa terbang tataran ruhani yang lebih tinggi,” tambah dia.
Sementara itu KH. Ahmad Nawawi Cholil dari Rembang menambahkan, kanjeng Nabi pernah memberi nasihat agar senantiasa hati-hati dan optimis. Sikap itu perlu dilakukan kepada berbagai hal.
“Seperti dalam sikap berbangsa, maka kita harus berani mengingatkan jika salah tapi juga harus tetap optimis,” ujar dia.
Oleh karena itu, Kiai Nawawi menyebut kenikmatan paling besar adalah ilmu. Sehingga bisa tahu dalam menempatkan situasi.
“Saya teringat Mbah Maimoen pernah memberi nasihat. Orang yang mau bejo dunia akhirat harus punya ilmu ngempet. Bahkan setelah beliau wafat ada peristiwa aneh, dicoba dengan pandemi. Itu kan kita harus ngempet,” ujar dia.
Topik yang begitu dalam itu rupanya menjadi bahan renungan mendalam bagi ratusan pemirsa yang menyaksikan secara langsung maupun melalui berbagai media sosial Suluk Maleman. Hadirnya musik religi dari Sampak GusUran juga kian menghangatkan suasana.
Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dan KH. A. Nawawi Cholil dalam NgAllah Suluk Maleman “Asal Kau Tak Murka, Aku Tak Peduli” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (19/9).
- Penulis: Harian NU
