Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Dari Rembulan ke Langit: Suluk Maleman dan Pencarian Makna Ketuhanan

Dari Rembulan ke Langit: Suluk Maleman dan Pencarian Makna Ketuhanan

  • account_circle Admin
  • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
  • visibility 484
  • comment 0 komentar

 

hariannu.com – Pemahaman manusia tentang Tuhan, karena perbedaan sudut pandang, acap menjadi rumit dalam banyak pembahasan. Masalah inilah yang mencoba dibedah di forum NgAllah Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia.
Awalnya Anis Sholeh Ba’asyin menggaris-bawahi bahwa apa yang disebut ateisme bukanlah gejala baru.
“Dalam sejumlah teori, ditegaskan bahwa pada awalnya manusia percaya bahwa Tuhan adalah Esa. Kepercayaan ini, karena berbagai perkembangan budaya tertentu, kemudian bermetamorfosa menjadi kepercayaan terhadap dewa-dewa,” jelas Anis membuka acara.
Kenyataan semacam inilah inilah yang melatari munculnya istilah ateis di peradaban Yunani. Meski istilah ateis waktu itu tidak dipakai secara spesifik sebagaimana sekarang, tapi lebih merujuk pada kelompok atau bangsa yang konsepnya tentang Tuhan berbeda dengan konsep Tuhan yang dipercaya oleh orang Yunani.
Lebih lanjut Anis menjelaskan bahwa bukan hanya ateisme yang sudah ada jauh sebelum sains lahir, tapi juga masalah kebangkitan setelah kematian yang juga sudah dipertanyakan orang sejak dahulu kala.
“Al Qur’an bahkan menceritakan salah satu episode di mana Nabi Ibrahim sempat bertanya langsung pada Tuhan tentang bagaimana manusia bisa dibangkitkan kembali setelah kematiannya,” sambung Anis.
“Fakta bahwa ateisme dan ketidak percayaan tentang kebangkitan setelah kematian, sudah ada jauh sebelum sains berkembang, membuktikan bahwa tidak butuh sains untuk menjadi ateis atau tidak percaya tentang kehidupan setelah kematian. Dari sisi ini, pada dasarnya sains hanya dijadikan alat sofistifikasi bagi kepercayaan yang sudah lama ada,” tegas Anis.
Dengan catatan, Anis menyebut adanya perbedaan epistemologi antara ilmu dengan sains yang berkembang sejak masa pencerahan hingga di masa sekarang. Secara sederhana, Anis menyebut bahwa pada dasarnya ilmu berkait dengan semesta yang lahir dan batin, sementara sains cenderung mempersempitnya ke wilayah yang lahiriah belaka.
Beralih ke pembahasan tentang Tuhan, Anis menegaskan perlunya kehati-hatian dalam pembahasannya. Bahwa Tuhan ada, bisa dilacak lewat ilmu tertentu. Tapi adanya Tuhan harus dipisah dari konsep ada dalam persepsi manusia. Tuhan yang tak terbatas tak mungkin diraih dalam persepsi manusia yang selalu terbatas.
Menurut Anis, manusia butuh alat lain untuk mencoba memahami kehadiran aktual Tuhan. Alat tersebut adalah mata hati, atau dalam bahasa Yunani kuno disebut intellectus. Mata hati atau intellectus hanya diaktivasi dengan pembersihan diri secara terus menerus; pembersihan diri dari kemelekatan terhadap keberadaan dunianya.
Sementara itu budayawan asal Kudus, Dr Abdul Jalil, menambahkan bahwa relasi antara sains dan agama itu harus dibahas dalam koridor tepat.
“Apakah antagonistik, integralistik ataukah komplementer?,” tanya Jalil.
Jalil bahkan menyoroti paham baru yang menurutnya tak kalah membahayakan. Yakni kelompok yang mempercayai adanya Tuhan namun tidak percaya agama.
“Banyak tokoh sosial, hingga aktivis yang seperti itu. Mereka jelas percaya pada Tuhan tapi menganggap agama tidak penting. Ibaratnya moral yes, spiritual yes, tapi agama no,” ungkap Jalil.
Anis menganggap fenomena tersebut sebagai ironi. Di satu sisi, banyak orang beragama tapi tidak berTuhan. Di sisi lain, banyak orang berTuhan tapi tak beragama.
“Beragama tapi tak berTuhan, ibarat bentuk tanpa isi, atau tubuh tanpa ruh. Dia menjadi apa yang sekarang disebut zombie atau mayat berjalan. Sementara berTuhan tapi tak beragama, ibarat isi tanpa bentuk, atau ruh tanpa tubuh. Dia menjadi seperti hantu,” imbuh Anis.
Diskusi dengan tema yang cukup berat itu mampu dicairkan dengan iringan musik Sampak GusUran. Ratusan masyarakat terlihat antusias mengikuti diskusi yang digelar secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia maupun berbagai platform media sosial Suluk Maleman.(*)

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dan Dr. Abdul Jalil dalam NgAllah Suluk Maleman ‘Tuhan Dalam Pemahaman Manusia’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (19/7).

Penulis

Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lautan Santri Warnai Jalan Sehat NU Jateng 2025, 25 Ribu Peserta Tumpah Ruah di Bergas Semarang

    Lautan Santri Warnai Jalan Sehat NU Jateng 2025, 25 Ribu Peserta Tumpah Ruah di Bergas Semarang

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 393
    • 0Komentar

      Hariannu.com Semarang — Semangat kebersamaan dan nuansa hijau khas Nahdlatul Ulama (NU) menyelimuti Stadion Pandanaran, Wujil Bergas, Kabupaten Semarang, Sabtu (25/10/2025). Ribuan masyarakat tumpah ruah mengikuti Jalan Sehat Santri NU Jateng 2025, salah satu rangkaian utama dalam peringatan Hari Santri yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah. Sedikitnya 25 ribu peserta ikut […]

  • Suluk Maleman Kali Ini; Asal Allah Tak Murka

    Suluk Maleman Kali Ini; Asal Allah Tak Murka

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Hariannu.com Kisah di balik doa Rasulullah di Thaif memberi pelajaran penting bagi umat muslim. Selain mengajarkan kasih sayang, juga agar tidak mudah terpengaruh omongan orang. Kisah tersebut menjadi salah satu bahan refleksi yang diangkat dalam gelaran Suluk Maleman pada Sabtu (19/9). Anis Sholeh Ba’asyin mengungkapkan ada cerita penuh makna dibalik doa itu. Dia menceritakan saat […]

  • Ratusan Generasi Muda NU Ikuti Pengkaderan di Gembong

    Ratusan Generasi Muda NU Ikuti Pengkaderan di Gembong

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 453
    • 0Komentar

      hariannu.com – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Kecamatan Gembong menjadi tuan rumah Diklatsar dan PKD Ansor Banser. Sedikitnya 116 peserta dari empat kecamatan di Kabupaten Pati mengikuti acara yang dibuka pada Jumat (8/7) petang. “Pesertanya dari Kecamatan Pati Kota, Gembong, Tlogowungu dan Margorejo,” terang Paijan, Panitian Pelaksana kepada hariannu.com. Pembukaan acara […]

  • Antara Membaca atau Deklamasi Puisi, Ternyata Peserta Belum Paham

    Antara Membaca atau Deklamasi Puisi, Ternyata Peserta Belum Paham

    • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
    • account_circle Harian NU
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Semarang – Juri Lomba Baca Puisi Religi Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah memberikan catatan bermakna dan menarik. Sastrawan Mirza Sastroatmodjo Juri Lomba Baca Puisi Religi memberikan beberaba catatan terkait perlombaan tersebut. “Hanya catatan singkat. Sebelumnya, kami sangat mengapresiasi seluruh peserta dan pendamping yang telah memberikan penampilan […]

  • Fakhruddin Karmani Tegaskan Urgensi Akidah Aswaja Annhdliyah

    Fakhruddin Karmani Tegaskan Urgensi Akidah Aswaja Annhdliyah

    • calendar_month Ming, 13 Apr 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 612
    • 0Komentar

    Hariannu.com.Jepara – Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani menegaskan pentingnya penguatan akidah Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Hal itu terungkap dalam Halalbihalal Keluarga Besar LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Jepara yang bertempat di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Sabtu (12/4/2025). Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menuturkan Aswaja Annahdliyah […]

  • Dari Pati untuk Dunia: Gong Cik sebagai Simfoni Tradisi yang Memadukan Beladiri, Kesenian, dan Falsafah Jawa

    Dari Pati untuk Dunia: Gong Cik sebagai Simfoni Tradisi yang Memadukan Beladiri, Kesenian, dan Falsafah Jawa

    • calendar_month Sel, 22 Jul 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 561
    • 0Komentar

    ditulis: Arif Khilwa (Ketua Lesbumi PCNU Pati) Seni tradisi bukan sekadar pertunjukan warisan masa silam. Ia adalah cermin nilai-nilai luhur, identitas kolektif, sekaligus denyut kebudayaan yang senantiasa hidup di tengah masyarakat. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kita menjumpai sebuah bentuk seni tradisi yang unik dan sarat makna: Gong Cik, sebuah ekspresi kebudayaan yang memadukan seni […]

expand_less