Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Suluk Maleman, Menyoal Kita, Agama dan Kuasa

Suluk Maleman, Menyoal Kita, Agama dan Kuasa

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Ming, 24 Mei 2026
  • visibility 232
  • comment 0 komentar

Penyalahgunaan relasi kuasa patut menjadi bahan perenungan yang serius. Keberadaan ilmu tentu menjadi penting untuk mencegah persoalan itu terjadi di tengah carut marut saat ini. Persoalan itu menjadi bahasan dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (23/5) malam.

Anis Sholeh Ba’asyin menyebut kasus dugaan pelecehan santriwati di Pati menjadi salah satu bentuk dari penyimpangan relasi kuasa. Dimana seorang dukun atau ada yang menganggap kiyai atau tokoh, telah menyalahgunakan wewenangnya.
Sejumlah sumber menyatakan bahwa tersangka dalam dugaan pelecehan tersebut bukanlah kiyai, melainkan dukun yang kemudian membuat lembaga pendidikan berbentuk pesantren. Hal itu yang kemudian membuat Anis kembali teringat pesan gurunya.
“Saya teringat pesan guru saya, Mbah Dullah Salam. Beliau pernah mengatakan bahwa banyak yang dianggap kiyai tapi sebenarnya dukun. Banyak dukun yang berpakaian kiyai,” ujar dia.

Istilah dukun bagi Anis sendiri telah mengalami pergeseran makna. Dalam istilah Jawa, dukun identik dengan orang yang dianggap punya keahlian tertentu, dan tidak serta merta berkonotasi klenik.
“Kalau diingat dulu itu ada dukun bayi, dukun pijat, dukun sunat. Artinya bukan soal klenik, tapi penyebut bagi orang yang dianggap pintar atau cerdas. Namun ironisnya sekarang muatan maknanya lebih bergeser ke hal klenik,” imbuh dia,
Begitu pula dengan istilah kiyai yang berasal dari “ki” dan “yai”. Dalam pemahaman Jawa, “ki” merupakan istilah lelaki yang dihormati sementara “yai” menunjukkan sesuatu yang terhormat, besar dan agung.
“Kalau diingat Kiyai di Jawa, penyebutannya tidak hanya untuk manusia. Tapi bisa juga untuk keris atau pusaka hingga kerbau yang dihormati,” imbuh dia.

Kalangan ulama kemudian mendefinisikan kiyai sebagai orang yang punya ilmu kegamaan lengkap dan mampu mengaplikasikan pada dirinya. Sehingga ilmu itu selain untuk diajarkan juga diaplikasikan ke diri agar dapat menjadi teladan di sekitarnya.
“Karena akhlak dan adab jadi dihormati dan dituakan di lingkungan,” tambah dia.

Dalam kesempatan itu dia juga mengingatkan kembali adanya perbedaan antara mistika dan magi. Dalam tasawuf lebih dekat dengan hal yang disebut mistika, yakni perjalanan orang yang menempuh sisi rohani untuk melakukan pendekatan pada Allah.
“Saat itu, biasanya dia akan mendapatkan semacam kemampuan. Itu sebenarnya godaan bukan kelebihan bahkan bisa berbahaya,” ucap dia.
Selain kemampuan, dalam tasawuf juga disebutkan di tingkatan mendekati kebenaran atau membersihkan diri biasanya justru ada fase yang berbahaya terkait godaan syahwat. Maka disitulah harus belajar bagaimana menahan nafsu dan syahwat.
“Maka dalam toriqoh, pengawasan guru atau mursyid terhadap murid sangat ketat,” tambah dia

Hal itu sangat berbeda dengan magi, yang lebih dekat dengan pengertian sihir. Salah satu pengertian magi menurut Anis, adalah bentuk pemanfaatan kekuatan alam atau supra natural untuk kepentingan manusia. Berbeda dengan sains, masyarakat yang cara berpikirnya masih dikuasai magi secara gaib, akan lebih mengandalkan jalan pintas, dengan memotong proses dalam menjalani hidupnya.
“Saat masyarakat umum masih dikuasi cara berpikir magis, maka biasanya akan muncul orang yang memanfaatkannya. Mereka memanfaatkan secara psikologis kemampuan maginya untuk membuat takut, waswas dan lainnya. Menjajah pihak lain karena punya kemampuan tertentu, itu sihir namanya,” imbuh dia.

Di situlah terjadi penyalahgunaan relasi kuasa. Tak hanya soal dukun atau oknum kyai, namun bisa terjadi dimana saja saat satu pihak punya kekuasaan lebih dibanding lainnya. Bisa bapak-anak, guru-murid, atasan-bawahan, pemimpin-rakyat. Penyalahgunaannya juga tak hanya seksual tapi bisa dalam bentuk apa saja,” imbuh dia.

“Agama, politik, budaya pasti melahirkan kuasa. Masalah, apakah digunakan ke arah positif atau negatif? Mari jernihkan cara berfikir. Kalau ada oknum kiai jangan salahkan sistemnya tapi personalnya. Kita juga harus ingat, barokah juga bukan seperti yang dipahami saat ini. Barokah itu saat silaturahmi pada kiyai atau orangtua kemudian kita ditambah ilmu dan didoakan,” imbuh dia.

Hanya saja masyarakat saat ini seolah ingin terburu-buru. Baik untuk menjadi kaya, mencari jodoh dan lainnya kemudian datang ke dukun dengan pendekatan magi atau sihir tersebut. Hal itulah yang kemudian membuat kekacauan serta memunculkan potensi terjadinya penyalahgunaan relasi kuasa tersebut.

“Logika magi itu cirinya biar cepat mencapai hasil. Lebih mengandalkan jalan pintas, dengan memotong proses Berbeda dengan agama yang mengajarkan istiqomah,” tambah dia.
Anis juga menekankan betapa pentingnya bertanya dalam belajar agama. Bahkan dalam belajar ilmu syariat diwajibkan bertanya sampai tuntas.
“Masyarakat kita sebenarnya masyarakat yang taqdim begitu pula dalam tradisi pesantren. Hal itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah dan berbeda dengan sistem feodal. Kelemahannya terkadang kita hanya takut bertanya,” imbuh dia.

Sementara itu KH. A. Nawawi Cholil dari Rembang menyebut prihatin peristiwa dugaan pelecehan santriwati di Pati berdampak pembullyan pesantren secara menyeluruh. Dimana hal itu dilakukan oleh seorang oknum yang berdampak begitu luas.
“Jangan sampai memvonis seluruh pondok. Indonesia dianggap kuat justru karena pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU). Banyak negara besar yang kemudian pecah. Tapi alhamdulillah Indonesia tak mengalaminya. Salah satunya berkat adanya jaringan pondok pesantren,” ujar dia.
Dia menyebut terjadinya penyalah-gunaan kuasa adalah lantaran ilmu tidak didasarkan pada hati. Meski alim, namun jika ilmu hanya ada di otak, maka yang terjadi hanyalah nafsu.

“Maka rezeki yang paling nikmat itu adalah ilmu yang letaknya di dada. Sementara yang paling rendah itu materi di atasnya itu kesehatan. Ilmu yang hanya di otak hanya akan melahirkan hitung-hitungan saja. Saat bersedekah saya bisa dapat apa?” imbuh dia.
Kyai Nawawi juga kembali mengingatkan pesan dari Mbah Maimoen Zubair. Dalam pesannya, disebutkan ada empat kunci agar hidup dapat mulia. Diantaranya yakni punya pekerjaan, punya wiridan, punya tabungan untuk akhirat serta punya ilmu menahan diri.
“Punya ilmu ngempet baik nafsu, atau bahkan dalam mengkritik pemerintah juga harus ngempet. Boleh mengkritik tapi tetap ada tatanannya,” ujar dia.

Topik yang begitu hangat itu mampu membuat ratusan orang menyaksikan baik datang langsung ke Rumah Adab Indonesia Mulia maupun melalui berbagai kanal media sosial Suluk Maleman, mampu bertahan sampai akhir kajian. Iringan dari musik Sampak GusUran juga kian menghangatkan jalannya ngaji budaya tersebut.

 

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Meriahkan Harlah Muslimat NU ke-80, 38 Grup Drumband TK-RA se-Kabupaten Pati Unjuk Kreativitas

    Meriahkan Harlah Muslimat NU ke-80, 38 Grup Drumband TK-RA se-Kabupaten Pati Unjuk Kreativitas

    • calendar_month Sen, 20 Apr 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 266
    • 0Komentar

      ​PATI – GOR Pesantenan Pati menjadi saksi keceriaan dan semangat ribuan anak-anak dalam ajang Festival Drumband TK-RA yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) Kabupaten Pati, Ahad (19/4/2026). ​Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU ke-80 ini mengusung tema “Mengembangkan Keterampilan dan Kreativitas Menuju Kemandirian”. ​Ketua YPMNU Kabupaten […]

  • Baznas Pati Bakal Tarik Zakat Petani hingga Kiai

    Baznas Pati Bakal Tarik Zakat Petani hingga Kiai

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 251
    • 0Komentar

      Pati – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pati tak hanya menyasar Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menampung zakat. Mereka juga bakal menyasar zakat petani hingga kiai atau penceramah. Ketua BAZNAS Pati, Minanurrohman, menjelaskan langkah ini dilakukan untuk mengembangkan potensi zakat di Kabupaten Pati. Apalagi kewajiban zakat bukan hanya ASN, melainkan bagi orang yang […]

  • INISNU Datangkan Pakar Riset dan Inovasi dari BRIN dan Bapperida

    INISNU Datangkan Pakar Riset dan Inovasi dari BRIN dan Bapperida

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 390
    • 0Komentar

      Hariannu.com. Temanggung — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar kegiatan bertajuk Workshop Peningkatan Kapasitas SDM INISNU Dalam Bidang Riset dan Inovasi INISNU dan AKPER yang menghadirkan para pakar riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kamis (6/11/2025) di Aula INISNU Temanggung. Hadir sebagai narasumber Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Iptek BRIN Edy […]

  • Malam di Bumi Tamiang: Langkah Awal Relawan NU Peduli Menyemai Harapan

    Malam di Bumi Tamiang: Langkah Awal Relawan NU Peduli Menyemai Harapan

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 375
    • 0Komentar

      Malam belum sepenuhnya usai ketika rombongan relawan NU Peduli PWNU Jawa Tengah akhirnya tiba di Bumi Tamiang pada pukul 20.30 WIB. Wajah-wajah lelah terlihat jelas setelah perjalanan panjang, namun semangat tetap terjaga. Di bawah langit Aceh yang tenang, langkah pertama misi kemanusiaan resmi dimulai. Tanpa banyak jeda, para relawan langsung mempersiapkan perjalanan lanjutan menuju […]

  • Rembuk Merah Putih: FKPT Jawa Tengah Serukan Narasi Damai Lawan Radikalisme dan Terorisme

    Rembuk Merah Putih: FKPT Jawa Tengah Serukan Narasi Damai Lawan Radikalisme dan Terorisme

    • calendar_month Rab, 1 Okt 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 501
    • 0Komentar

      SEMARANG,-Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah menyelenggarakan Forum Rembuk Merah Putih di Wisma Perdamaian Semarang, Rabu (1/10/2025). Kegiatan ini mengangkat tema mewujudkan pemuda cerdas, kritis dan cinta tanah air. Ketua FKPT Jawa Tengah Hamidullah Ibda mengatakan Rembuk merah putih merupakan program mandatori Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) melalui FKPT khusus bidang media/humas dan […]

  • Menang Gugatan, Lahan MTs Islam Milik PCNU Pati Bukan STAIP

    Menang Gugatan, Lahan MTs Islam Milik PCNU Pati Bukan STAIP

    • calendar_month Sen, 28 Sep 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Pati – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menang atas gugatan Yayasan Pendidikan Islam Pati alias YAPI 2011 di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Hal ini menegaskan, lahan MTs Islam Pati merupakan milik PCNU bukan STAIP. Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU) Cabang Pati, Ahmad Sofwan menjelaskan, gugatan tersebut dilayangkan YAPI […]

expand_less