Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Suluk Kajen Resmi Diluncurkan, Jadi Pusat Riset Manuskrip Kuno Mbah Mutamakkin

Suluk Kajen Resmi Diluncurkan, Jadi Pusat Riset Manuskrip Kuno Mbah Mutamakkin

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Ming, 28 Jun 2026
  • visibility 137
  • comment 0 komentar

 

PATI – Sebuah langkah besar untuk mengangkat khazanah intelektual Islam dimulai dari serambi Masjid Kajen, Margoyoso, Pati. Pada Sabtu (27/6/2026), para kiai sepuh yang bernaung di bawah Yayasan Makam Mbah Mutamakkin secara resmi meluncurkan forum ilmiah bernama “Suluk Kajen”. Peluncuran ini dikemas lewat seminar bertajuk Suluk Kajen #1 dengan mengangkat tema “Pamoring Kawula Gusti: Syekh Ahmad Mutamakkin dan Reimajinasi Intelektual Pesantren di Era Kontemporer”.

​Acara ini menjadi magnet bagi para perindu ilmu karena dihadiri oleh deretan tokoh intelektual dan ulama nasional. Tampak hadir di lokasi di antaranya Prof. KH. Said Aqil Siroj, KH. Ulil Abshar Abdalla, Prof. Islah Gusmian, Dr. Zainul Milal Bizawie, Prof. Maharsi, hingga Dr. Saiful Umam.
​
Direktur Suluk Kajen, Mohammad Yunus Masrukhin, mengungkapkan bahwa selama ini sosok Syekh Ahmad Mutamakkin atau Mbah Mutamakkin lebih sering dipahami masyarakat sebatas pada laku keagamaan praktis yang ditransformasikan melalui penuturan atau budaya lisan dari generasi ke generasi. Padahal, menurutnya, ada banyak teks-teks sejarah otentik yang terhubung dengan Mbah Mutamakkin yang selama ini belum bisa diakses secara umum dan belum dikaji secara ilmiah.

​Berangkat dari kegelisahan kiai-kiai sepuh Kajen dalam beberapa tahun terakhir itulah, Suluk Kajen didirikan sebagai sebuah lembaga ilmiah khusus. Tugas utamanya adalah melakukan transformasi tradisi keagamaan warisan Mbah Mutamakkin dari berbagai aspek, mulai dari tekstual, sejarah, sosial, politik, hingga ekonomi dari masa lalu hingga era sekarang. Yunus tidak menampik bahwa ini adalah kerja besar yang luar biasa berat dan membutuhkan kesinambungan hingga beberapa tahun ke depan.

​Untuk menopang kerja besar ini, Suluk Kajen bergerak melalui lima divisi strategis. Divisi Riset akan fokus memproduksi pengetahuan ilmiah-akademik, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Divisi Kegiatan lewat sosialisasi dan uji coba akademik bersama tokoh ulama serta intelektual luar. Sementara itu, Divisi Publikasi bertugas menyebarkan hasil riset ini, baik dalam bentuk jurnal ilmiah maupun konten kreatif-populis di media sosial agar lebih akrab di telinga generasi muda.

Ada pula Divisi Museum yang memegang peran krusial untuk mengoleksi, mengonservasi, dan menarasikan situs serta artefak sebagai bukti historis kuat bahwa Mbah Mutamakkin adalah ulama karismatik pembentuk peradaban di Pantura. Kesemuanya disinergikan oleh Kesekretariatan sebagai forum penghubung.

​Terkait potensi naskah kuno (manuskrip) yang tersimpan di Kajen, Yunus menyebutkan bahwa proses pendataan menyeluruh masih terus berjalan. Namun, jika dibandingkan dengan dekade sebelumnya, saat ini sudah ada sekitar sembilan naskah kuno akurat yang berhasil teridentifikasi dan siap dikaji secara mendalam. Beberapa di antaranya adalah naskah Arsyul Muwahhidin, Suluk Alif, Suluk Kajen, hingga Bundel Kajen yang merupakan koleksi dari Prof. Islah Gusmian.

Untuk diketahui, Suluk Kajen lahir sebagai ikhtiar untuk menapaki jalan ilmu dengan kesadaran, ketekunan, dan kerendahan hati. Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak sekadar dipahami sebagai pengetahuan yang selesai pada hafalan dan penjelasan, tetapi sebagai laku yang harus ditempuh—pelan, teliti, dan beradab. Frasa “Hangrenggani Urip, Hanguripake Rerenggan” merupakan ungkapan filosofis Jawa yang sarat makna kebudayaan dan spiritualitas.

Secara morfologis, kata hangrenggani berasal dari akar kata rengga atau renggani yang berarti keindahan, penghormatan, atau pemuliaan. Bentuk ini mengandung makna aktif-kausatif: memperindah, memuliakan, atau mengangkat martabat sesuatu. Adapun urip berarti hidup, bukan sekadar biologis, tetapi juga kehidupan batin dan kebermaknaan manusia. Dengan demikian, hangrenggani urip dapat dipahami sebagai usaha memuliakan kehidupan melalui penghalusan budi, ilmu, dan laku spiritual.

Sementara itu, hanguripake berarti menghidupkan kembali, sedangkan rerenggan menunjuk pada keindahan, tata nilai, atau unsur-unsur adiluhung yang memperelok kehidupan. Dalam tradisi Jawa, rerenggan tidak hanya bermakna hiasan lahiriah, tetapi juga mencakup sastra, etika, ilmu, spiritualitas, dan tata krama. Karena itu, frasa hanguripake rerenggan berarti menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi penyangga peradaban.

Ungkapan ini memiliki kedekatan kuat dengan filosofi pesantren Jawa. Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak dipahami sebatas pengetahuan rasional, tetapi sebagai jalan pembentukan adab dan penyucian batin. Tradisi suluk, pengajian kitab, wirid, dan macapat merupakan bentuk rerenggan urip—ikhtiar memperindah kehidupan melalui ilmu dan kesadaran ketuhanan.

Pesantren tidak hanya melahirkan manusia berpengetahuan, tetapi juga manusia yang halus budi, rendah hati, dan memiliki kesadaran sosial-spiritual.

Dalam horizon Islam Jawa, terutama pada tradisi sufistik Syekh Mutamakkin, kehidupan yang luhur adalah kehidupan yang mampu menyatukan ilmu, laku, dan kebudayaan. Karena itu, frasa ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk memuliakan kehidupan dengan cara merawat dan menghidupkan kembali warisan adab, spiritualitas, dan kebijaksanaan budaya agar tetap relevan bagi masyarakat modern.

Dengan demikian, Suluk Kajen bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang laku bersama—tempat di mana jejak ditelusuri dengan nalar, warisan dirawat dengan kesadaran, dan perbedaan dihadapi dengan adab. Ia adalah upaya untuk menghadirkan kembali tradisi keilmuan yang tidak hanya benar secara metodologis, tetapi juga bening dalam niat dan luhur dalam cara. Di jalan ini, setiap langkah bukan hanya untuk mengetahui, tetapi untuk memahami; bukan hanya untuk memahami, tetapi untuk menjadi lebih bijak dalam memaknai warisan dan kehidupan.

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Surodadi Menuju Dunia, LP Ma’arif NU Jateng Dorong Madrasah Kuasai Bahasa Inggris dan Berdaya Saing Global

    Dari Surodadi Menuju Dunia, LP Ma’arif NU Jateng Dorong Madrasah Kuasai Bahasa Inggris dan Berdaya Saing Global

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 75
    • 0Komentar

    BATANG — LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah bersama tim MPM-Pearson melakukan pendampingan Program Madrasah Berstandar Global di MI Islamiyah Surodadi, Kabupaten Batang, Rabu (12/8/2026). Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memantau progres sekaligus memastikan implementasi program berjalan sesuai target. Pendampingan secara luring berlangsung selama dua hari, 12–13 Agustus 2026. Selain di MI Islamiyah Surodadi […]

  • ​'Nyanyian Pesisir': Warisan 194 Puisi Aloeth Pathi yang Tak Lekang Oleh Zaman

    ​’Nyanyian Pesisir’: Warisan 194 Puisi Aloeth Pathi yang Tak Lekang Oleh Zaman

    • calendar_month Ming, 13 Sep 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 26
    • 0Komentar

    ATI — Ratusan kenangan tentang penyair Aloeth Pathi kembali dihidupkan melalui doa, puisi, musik, dan buku. Memperingati 100 hari wafatnya almarhum, Gandrung Sastra Pati menggelar doa bersama sekaligus meluncurkan buku kumpulan puisi bertajuk Nyanyian Pesisir di Rumah Gandrung Sastra, Desa Sekarjalak, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Sabtu (13/9/2026) malam. ​Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.30 hingga […]

  • Sarbumusi Dorong Pemkab Pati Buat Pangkalan Truk

    Sarbumusi Dorong Pemkab Pati Buat Pangkalan Truk

    • calendar_month Sen, 2 Jun 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 600
    • 0Komentar

    Hariannu.com – Ketua Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Pati, Husaini, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat membangun pangkalan truk secara permanen. Menurut dia, pangkalan truk bukan hanya sekadar tempat parkir, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan bagi pemerintah daerah. Husaini mengungkapkan, Sarbumusi yang menaungi Paguyuban Sopir Pati (PSP) telah mengusulkan pembangunan pangkalan truk sejak beberapa tahun lalu. Namun hingga […]

  • Ma'arif NU Jateng Perlebar Kerjasama Internasional

    Ma’arif NU Jateng Perlebar Kerjasama Internasional

    • calendar_month Ming, 23 Feb 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Hariannu.com -Jakarta – Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah mengikuti Konferensi Kerjasama dengan tiga Kampus China di Hotel Ciputra Jakarta pada Ahad (23/02/2025). kegiatan difasilitasi oleh BRCC Indonesia, dengan dihadiri oleh perwakilan dari Kemendikdasmen, Direktur BRCC Global, LP Ma’arif NU PBNU, LP Ma’arif NU PWNU DKI Jakarta dan beberapa Sekolah Menengah Atas di Jakarta. […]

  • Kick Off Rakerdin Ma'arif NU Jateng Pakai Angklung

    Kick Off Rakerdin Ma’arif NU Jateng Pakai Angklung

    • calendar_month Sab, 11 Jan 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 575
    • 0Komentar

    Hariannu.com-Kendal – Bertempat di Pendopo Tumenggung Bahurekso Kabupaten Kendal, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah resmi melakukan Kick Off (pembukaan) Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Sabtu (11/1/2025). Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani menyampaikan bahwa Rakerdin ini adalah tindak lanjut dari Rakerwil yang sudah […]

  • MK Pisahkan Anggaran MBG dari Dana Pendidikan, LP Ma'arif NU Jateng: Penyelamat Sekolah Swasta

    Cegah Anggaran Pendidikan “Terganggu”, LP Ma’arif NU Jateng Apresiasi Putusan MK Soal MBG

    • calendar_month Rab, 1 Jul 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 76
    • 0Komentar

    SEMARANG — Putusan terbaru Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai pemisahan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari porsi wajib (mandatory spending) anggaran pendidikan sebesar 20% mendapat sambutan positif dari kalangan pengelola pendidikan swasta. Langkah ini dinilai sebagai angin segar sekaligus upaya nyata penyelamatan anggaran pendidikan nasional agar tidak “terpangkas” oleh program di luar sektor pembelajaran. Dalam […]

expand_less