Bergeraklah, Jangan Hanya Marah Kepada Keadaan
- account_circle Harian NU
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam NgAllah Suluk Maleman “Kawah Candradimuka Kesabaran” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (17/10).
Pcnupati.or.id Di tengah situasi yang tidak baik-baik saja seperti sekarang ini, kesabaran adalah satu-satunya pilihan agar manusia tak tenggelam atau terseret arur. Sabar yang tak hanya dimaknai secara pasif, melainkan sebagai sikap aktif membaca situasi untuk menentukan langkah yang tepat memecahkannya.
Inilah isu sentral yang dibahas Suluk Maleman edisi ke- 178 pada Sabtu (17/11) kemarin.
“Kita rasakan di Pati saja cuacanya sampai 36 derajat. Kalau disini kita merasakan panas yang luar biasa, bagaimana dengan saudara kita di Kalimantan? Mereka tak hanya dipanggang panas tapi juga dikepung asap sehingga untuk bernafas pun sulit. Bahkan di Gaza, tak sekadar asap tapi malah peluru,” ujar Anis Sholeh Ba’asyin membuka dialog.
Hal itu menunjukkan situasi Indonesia dan dunia yang tengah di puncak tidak baik-baiknya. Tak hanya kondisi lingkungan, kondisi ekonomi pun menunjukkan arah yang sama. Banyak warga yang mengeluhkan kondisi sulitnya ekonomi dan pekerjaan. Belum lagi persoalan pajak yang mengejar ke banyak sektor baik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga marketplace.
“Sementara di sisi lain ada yang memamerkan kekayaan secara tidak masuk akal. Ada korupsi yang luar biasa. Tentu ini paradoks,” terang dia.
Semua fenomena ini tentu saja gampang memantik kemarahan orang. Dan menurut Anis, itu adalah reaksi yang sah sebagai pihak yang merasa telah didzolimi. Namun menurut Anis, kita tak boleh berhenti hanya dengan mengungkap kemarahan; karena sejarah memberi kita banyak bukti bahwa kemarahan semacam ini potensial dimanfaatkan banyak pihak untuk memetik keuntungan bagi diri dan kelompoknya sendiri. Akibatnya kita selalu dalam posisi lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.
“Oleh karena itu kita juga harus mulai membaca semua fenomena yang terjadi sebagai ayat-ayat yang harus kita baca dengan hati-hati. Kita tak boleh berhenti pada apa yang tampak atau narasi yang muncul, tapi harus berani membongkar lapisan-lapisan tersembunyi yang di baliknya, sekaligus mencoba membaca apa pesan yang disampaikan Allah kepada kita melalui semua peristiwa ini?” tegas Anis.
Budayawan asal Pati itu menyebut, dalam Islam diajarkan untuk senantiasa meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Sabar adalah salah satu kunci dalam menghadapi dan mengurai apa pun, termasuk musibah. Tapi sabar tidaklah berdiri sendiri, tapi secara bersamaan ia dikombinasikan dengan keterhubungan terus-menerus dengan Allah.
Membaca situasi jelas membutuhkan kesabaran dan petunjuk Allah, sehingga bisa menghasilkan jalan penyelesaian yang terbaik. Dan itu harus dimulai dari kejernihan hati, yang tak akan kita temukan bila kita masih diliputi kemarahan.
“Bila mampu mengendapkan kemarahan, insya Allah kita akan mampu melihat semua yang terjadi seperti cermin. Pertama, kita akan melihat seberapa besar peran dan partisipasi kita sendiri pada semua keadaan yang membuat kita marah tersebut? Kedua, sedikit demi sedikit kita akan mulai bisa membaca fakta-fakta dan jaringan-jaringan kepentingan yang ada di baliknya. Ketiga, dari situ kita bisa mulai mencari jalan keluar; setidaknya bagi pribadi dan keluarga, untung-untung bila bisa juga untuk masyarakat di sekitar kita,” jelas Anis.
Dalam kesempatan tersebut, Anis juga mewanti-wanti, dengan mengutip surat Al Ashr, bahwa sabar juga diposisikan setelah yang haq atau kebenaran atau kenyataan sebagaimana adanya kenyataan. Maka mengajarkan kesabaran harus dilakukan setalah orang berada dalam kebenaran.
“Menunggu kereta api di terminal itu bukan kesabaran, tapi kesesatan; karena tak akan ada kereta api yang mampir di terminal. Ini hampir sama dengan orang yang membakar hutan lantas minta kita bersabar karena toh nanti apinya akan padam sendiri. Oleh karena itu, kita harus berada pada jalur benar lebih dahulu, baru setelah itu bersabar.” tegas dia.
Menurut Anis, kemampuan bersabar dalam membaca situasi akan membuat kita terhindar dari jebakan narasi yang disebar kepentingan-kepentingan yang sedang berkonflik, atau kepentingan yang memanfaatkan konflik, yang semuanya pada dasarnya tidak peduli dengan fakta yang terjadi di lapangan. Mereka hanya peduli pada kepentingannya saja.
“Ada yang menyebut, agama menyebabkan kekerasan, ideologi menyebabkan kekerasan; tapi sejatinya kekerasan itu tidak murni muncul dari agama atau ideologi, tapi dari manusianya. Kuncinya manusia. Bila kepentingan diri dan kelompok menguasai diri, maka manusia bisa melakukan apa saja untuk mengajak orang agar mendukung dia, termasuk dengan cara-cara yang jahat dan tak bermoral” tegas dia.
“Oleh karena itu, kalau engkau lihat kejahatan, lihat di dirimu: adakah kejahatan itu di dirimu? Bersihkan dulu yang ada dalam dirimu,” tambah dia.
Topis kesabaran itu rupanya mampu menarik ribuan masyarakat untuk khidmat mengikuti ngaji budaya bertajuk Kawah Candradimuka Kesabaran tersebut. Suasana itu kian hangat dengan penampilan musik religi dari Sampak GusUran.
- Penulis: Harian NU
