Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
  • visibility 314
  • comment 0 komentar

 

Semarang — Ruang Oval lantai dua Dinas Pendidikan Kota Semarang, Selasa (11/11/2025), menjadi pusat perhatian dunia pendidikan daerah. Di tempat inilah, Dr. Hamidulloh Ibda, Wakil Rektor INISNU Temanggung, tampil sebagai reviewer utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembuatan Buku Numerasi Berbasis EVI MAP (Ethnoscience Village Map) yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kota Semarang bekerja sama dengan Tanoto Foundation.

FGD tersebut mempertemukan para akademisi, guru, pejabat dinas, dan penggerak literasi dalam suasana akademik yang berpadu dengan semangat kebudayaan lokal. Kegiatan ini menjadi puncak refleksi atas perjalanan panjang pendampingan tiga puluh guru dari berbagai sekolah dasar di Semarang yang menulis buku pembelajaran berbasis etnosains dan numerasi.

Dalam arahannya, Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Miftahudin, S.Pd., M.Si., memberikan apresiasi kepada tim Fasper Berkelas yang terdiri atas Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd., Dian Marta Wijayanti, M.Pd., Martini, S.Pd., M.Pd., dan Eko Prasetyo Nur Utomo, S.Pd. Tim ini mendapat dukungan penuh dari Tanoto Foundation untuk melatih dan mendampingi para guru menulis karya ilmiah populer berupa buku numerasi berbasis EVI MAP. “Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut. Tanoto Foundation jangan kapok mendukung gerakan literasi dan numerasi di Kota Semarang,” ujar Miftahudin, disambut tawa ringan para peserta.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs. Ali Sofyan, M.M., juga menegaskan apresiasinya terhadap para guru yang mampu menghasilkan karya buku dalam waktu singkat namun berkualitas. Menurutnya, proyek ini bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan bukti nyata bahwa guru dapat menjadi penulis dan inovator pembelajaran.

Dalam sesi pemaparan program, Tri Sugiyono menjelaskan bahwa kegiatan yang dijalankan sejak Juli hingga Oktober 2025 ini berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan siswa. Selama empat bulan, guru-guru sasaran mengikuti pelatihan intensif tentang filosofi dan penerapan Ethnoscience Village Map, kemudian menulis buku yang mengintegrasikan konteks budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Hasilnya, para guru tidak hanya menciptakan bahan ajar baru, tetapi juga mempraktikkan pendekatan kontekstual di kelas. Targetnya, terjadi peningkatan kompetensi numerasi siswa hingga 20 persen, terutama dalam domain pengukuran.

Sebagai reviewer utama, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., memberikan ulasan mendalam terhadap karya para guru. Ia menilai bahwa pendekatan EVI MAP bukan hanya proyek penulisan buku, tetapi sebuah gerakan untuk memulihkan hubungan antara ilmu dan budaya. “Numerasi berbasis Ethnoscience Village Map mengajarkan anak tidak hanya berhitung, tetapi juga memahami bagaimana masyarakatnya berpikir, mengukur, berdagang, dan mengelola lingkungan. Ini adalah bentuk literasi budaya yang hidup,” tegas Ibda dalam paparannya.

Sebanyak tiga puluh buku karya guru kemudian direviu bersama. Tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari tradisi Apitan di Sampangan, sejarah Ereveld Candi di Gajahmungkur, kisah PDAM Tirta Moedal, rumah kolonial di Sompok, hingga aktivitas ekonomi di Kampung Gumregah. Semua karya menjahit nilai-nilai budaya ke dalam konteks numerasi, menjadikan matematika lebih bermakna bagi siswa.

Ibda menilai, secara umum, buku-buku tersebut telah menarik dan memiliki distingsi kuat karena menampilkan kekayaan lokal Semarang dengan cara ilmiah dan kreatif. Struktur pembelajarannya pun lengkap, mulai dari bacaan naratif, lembar kerja siswa, asesmen formatif, hingga refleksi. Bahasa yang digunakan ringan dan komunikatif, mudah dipahami oleh anak sekolah dasar. Integrasi antara literasi dan numerasi tampak jelas, di mana cerita budaya menjadi titik tolak dalam memahami konsep matematis.

Namun, Ibda juga memberikan catatan kritis. Menurutnya, banyak karya yang masih berhenti pada level local wisdom (kearifan lokal), belum mencapai local knowledge (pengetahuan lokal) dan local genius (kecerdasan lokal) khas Semarang. Unsur etnosains belum tergali secara mendalam, karena penulis cenderung menonjolkan cerita tanpa menyingkap sains di baliknya—seperti teknik pengukuran tradisional, sistem bangunan, atau logika matematis dalam aktivitas masyarakat. Soal-soal numerasi juga masih dominan bersifat prosedural, belum banyak mendorong penalaran tingkat tinggi.

Kendati demikian, Ibda menekankan bahwa kekuatan utama proyek ini justru terletak pada semangat kolaboratifnya. “Buku-buku EVI MAP bukan hanya bahan ajar, tapi cermin kesadaran guru sebagai peneliti lokal yang merekam dan menghidupkan pengetahuan masyarakatnya,” ujarnya. Menurutnya, EVI MAP adalah wujud pendidikan yang berpihak pada budaya, berpijak pada lokalitas, dan menembus batas ruang kelas. Pendidikan dasar, lanjutnya, seharusnya tidak hanya menumbuhkan kemampuan kognitif, tetapi juga karakter, kebanggaan, serta kesadaran terhadap akar budaya sendiri.

Dalam sesi diskusi terbuka, para reviewer dan peserta memberikan rekomendasi penguatan. Buku-buku EVI MAP disarankan agar dilengkapi pengantar teoretis yang menjelaskan konsep etnosains secara sederhana, disertai peta visual interaktif dan soal berbasis proyek. Rubrik asesmen yang menilai proses berpikir siswa dinilai penting agar hasil belajar tidak hanya dilihat dari angka, tetapi juga dari argumentasi dan strategi yang digunakan siswa. Refleksi guru pun perlu ditambahkan agar pembelajaran menjadi pengalaman reflektif yang berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan peluncuran resmi tiga puluh buku EVI MAP berbasis numerasi. Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, S.STP., M.Si., secara simbolis melaunching karya para guru tersebut dan mengaku takjub dengan hasil yang di luar ekspektasi. “Saya tidak menyangka, hasilnya sebagus ini,” ujarnya dalam forum yang dimoderatori oleh Dian Marta Wijayanti itu.

Dari keseluruhan hasil review, proyek EVI MAP dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara nasional. Para ahli merekomendasikan agar buku-buku tersebut diberi ISBN dan dijadikan model pembelajaran numerasi kontekstual di berbagai daerah. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Contextual Teaching and Learning dan nilai-nilai Kurikulum Merdeka yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran.

FGD EVI MAP akhirnya menjadi tonggak penting dalam perjalanan pendidikan di Kota Semarang. Acara ini bukan sekadar forum akademik, melainkan gerakan kebudayaan yang menjadikan belajar sebagai cara memahami kehidupan. Di tengah tantangan rendahnya literasi dan numerasi nasional, para guru di Kota Semarang menunjukkan arah baru: menghadirkan sains dari kampung sendiri, membangun konsep dari tradisi, dan menjadikan budaya sebagai jantung pembelajaran. Melalui EVI MAP, anak-anak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar menghargai warisan pengetahuan leluhur yang kini menjadi bagian dari sains modern.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Pendamping Proyek Literasi Numerasi Normalia Eka Pratiwi, S.Pd.SD., M.Pd., perwakilan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kota Semarang, serta sejumlah guru penulis buku dari berbagai sekolah di Kota Semarang. (*)

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Launching Infak via QRIS, Penggalangan Infak Masjid Al-Ittihad INISNU Terkumpul Rp10.840.000

    Launching Infak via QRIS, Penggalangan Infak Masjid Al-Ittihad INISNU Terkumpul Rp10.840.000

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 303
    • 0Komentar

      Temanggung – Penggalangan infak Masjid Al-Ittihad Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung melalui sistem pembayaran digital QRIS berhasil menghimpun dana sebesar Rp10.840.000. Pengumpulan infak digital tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Nyadran Kampus Hijau yang digelar pada Jumat pagi (30/1/2026), sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 Masehi atau 1 Abad […]

  • Karya Jurnalistik MA Tajul Ulum Brabo dan SMK Negeri 6 Semarang Juarai Lomba Reportase dari Sekolah-Madrasah

    Karya Jurnalistik MA Tajul Ulum Brabo dan SMK Negeri 6 Semarang Juarai Lomba Reportase dari Sekolah-Madrasah

    • calendar_month Sab, 31 Mei 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 775
    • 0Komentar

    Hariannu.com.Semarang, 31 Mei 2025 – Platform media digital yang fokus pada narasi lokal, babad.id bersama dengan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, dengan bangga mengumumkan para pemenang Lomba Reportase dari Sekolah-Madrasah. Lomba tersebut sebagai upaya menumbuhkan minat dan bakat jurnalistik di kalangan pelajar serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengemukakan ide dan pandangan […]

  • Menguatkan Suara Keadilan: Advokasi Non Litigasi melalui Media Sosial

    Menguatkan Suara Keadilan: Advokasi Non Litigasi melalui Media Sosial

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 318
    • 0Komentar

      Hariannu.com. Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga Islam (HKI) mengadakan Kelas Advokasi Non Litigasi yang bertempat di Aula Fakultas Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan selama tiga hari, Rabu, Jumat dan Sabtu (5,7,8/11/2025). Kegiatan yang diikuti oleh 32 peserta ini menghadirkan lima narasumber yang punya pengalaman di bidangnya. Salah satu materi pada acara […]

  • Sidang Uji Materi UU Pesantren: Majelis Masyayikh Tegaskan Negara Wajib Hadir dalam Pendanaan

    Sidang Uji Materi UU Pesantren: Majelis Masyayikh Tegaskan Negara Wajib Hadir dalam Pendanaan

    • calendar_month Jum, 12 Jun 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Jakarta, 11 Juni 2026 — Ketua Majelis Masyayikh, KH Abdul Ghofar Rozin (Gus Rozin) kembali hadir dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (11/6/2026). Dalam sidang tersebut, Gus Rozin menyampaikan jawaban tertulis atas berbagai pertanyaan yang diajukan para hakim konstitusi pada persidangan sebelumnya. Gus Rozin menyampaikan […]

  • Kick Off Rakerdin Ma'arif NU Jateng Pakai Angklung

    Kick Off Rakerdin Ma’arif NU Jateng Pakai Angklung

    • calendar_month Sab, 11 Jan 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Hariannu.com-Kendal – Bertempat di Pendopo Tumenggung Bahurekso Kabupaten Kendal, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah resmi melakukan Kick Off (pembukaan) Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Sabtu (11/1/2025). Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani menyampaikan bahwa Rakerdin ini adalah tindak lanjut dari Rakerwil yang sudah […]

  • Relisensi LSP P2 Ma'arif PWNU Jawa Tengah

    Relisensi LSP P2 Ma’arif PWNU Jawa Tengah

    • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 310
    • 0Komentar

      Relisensi LSP P2 Ma’arif NU Jawa Tengah merupakan proses penilaian ulang yang dilakukan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk memastikan bahwa LSP tetap memenuhi standar mutu, tata kelola, dan kompetensi dalam pelaksanaan sertifikasi. Melalui relisensi ini, LSP P2 Ma’arif NU Jawa Tengah menunjukkan komitmennya dalam menjaga kualitas layanan sertifikasi, meningkatkan profesionalisme asesor, serta […]

expand_less