Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
  • visibility 350
  • comment 0 komentar

 

Semarang — Ruang Oval lantai dua Dinas Pendidikan Kota Semarang, Selasa (11/11/2025), menjadi pusat perhatian dunia pendidikan daerah. Di tempat inilah, Dr. Hamidulloh Ibda, Wakil Rektor INISNU Temanggung, tampil sebagai reviewer utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembuatan Buku Numerasi Berbasis EVI MAP (Ethnoscience Village Map) yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kota Semarang bekerja sama dengan Tanoto Foundation.

FGD tersebut mempertemukan para akademisi, guru, pejabat dinas, dan penggerak literasi dalam suasana akademik yang berpadu dengan semangat kebudayaan lokal. Kegiatan ini menjadi puncak refleksi atas perjalanan panjang pendampingan tiga puluh guru dari berbagai sekolah dasar di Semarang yang menulis buku pembelajaran berbasis etnosains dan numerasi.

Dalam arahannya, Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Miftahudin, S.Pd., M.Si., memberikan apresiasi kepada tim Fasper Berkelas yang terdiri atas Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd., Dian Marta Wijayanti, M.Pd., Martini, S.Pd., M.Pd., dan Eko Prasetyo Nur Utomo, S.Pd. Tim ini mendapat dukungan penuh dari Tanoto Foundation untuk melatih dan mendampingi para guru menulis karya ilmiah populer berupa buku numerasi berbasis EVI MAP. “Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut. Tanoto Foundation jangan kapok mendukung gerakan literasi dan numerasi di Kota Semarang,” ujar Miftahudin, disambut tawa ringan para peserta.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs. Ali Sofyan, M.M., juga menegaskan apresiasinya terhadap para guru yang mampu menghasilkan karya buku dalam waktu singkat namun berkualitas. Menurutnya, proyek ini bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan bukti nyata bahwa guru dapat menjadi penulis dan inovator pembelajaran.

Dalam sesi pemaparan program, Tri Sugiyono menjelaskan bahwa kegiatan yang dijalankan sejak Juli hingga Oktober 2025 ini berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan siswa. Selama empat bulan, guru-guru sasaran mengikuti pelatihan intensif tentang filosofi dan penerapan Ethnoscience Village Map, kemudian menulis buku yang mengintegrasikan konteks budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Hasilnya, para guru tidak hanya menciptakan bahan ajar baru, tetapi juga mempraktikkan pendekatan kontekstual di kelas. Targetnya, terjadi peningkatan kompetensi numerasi siswa hingga 20 persen, terutama dalam domain pengukuran.

Sebagai reviewer utama, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., memberikan ulasan mendalam terhadap karya para guru. Ia menilai bahwa pendekatan EVI MAP bukan hanya proyek penulisan buku, tetapi sebuah gerakan untuk memulihkan hubungan antara ilmu dan budaya. “Numerasi berbasis Ethnoscience Village Map mengajarkan anak tidak hanya berhitung, tetapi juga memahami bagaimana masyarakatnya berpikir, mengukur, berdagang, dan mengelola lingkungan. Ini adalah bentuk literasi budaya yang hidup,” tegas Ibda dalam paparannya.

Sebanyak tiga puluh buku karya guru kemudian direviu bersama. Tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari tradisi Apitan di Sampangan, sejarah Ereveld Candi di Gajahmungkur, kisah PDAM Tirta Moedal, rumah kolonial di Sompok, hingga aktivitas ekonomi di Kampung Gumregah. Semua karya menjahit nilai-nilai budaya ke dalam konteks numerasi, menjadikan matematika lebih bermakna bagi siswa.

Ibda menilai, secara umum, buku-buku tersebut telah menarik dan memiliki distingsi kuat karena menampilkan kekayaan lokal Semarang dengan cara ilmiah dan kreatif. Struktur pembelajarannya pun lengkap, mulai dari bacaan naratif, lembar kerja siswa, asesmen formatif, hingga refleksi. Bahasa yang digunakan ringan dan komunikatif, mudah dipahami oleh anak sekolah dasar. Integrasi antara literasi dan numerasi tampak jelas, di mana cerita budaya menjadi titik tolak dalam memahami konsep matematis.

Namun, Ibda juga memberikan catatan kritis. Menurutnya, banyak karya yang masih berhenti pada level local wisdom (kearifan lokal), belum mencapai local knowledge (pengetahuan lokal) dan local genius (kecerdasan lokal) khas Semarang. Unsur etnosains belum tergali secara mendalam, karena penulis cenderung menonjolkan cerita tanpa menyingkap sains di baliknya—seperti teknik pengukuran tradisional, sistem bangunan, atau logika matematis dalam aktivitas masyarakat. Soal-soal numerasi juga masih dominan bersifat prosedural, belum banyak mendorong penalaran tingkat tinggi.

Kendati demikian, Ibda menekankan bahwa kekuatan utama proyek ini justru terletak pada semangat kolaboratifnya. “Buku-buku EVI MAP bukan hanya bahan ajar, tapi cermin kesadaran guru sebagai peneliti lokal yang merekam dan menghidupkan pengetahuan masyarakatnya,” ujarnya. Menurutnya, EVI MAP adalah wujud pendidikan yang berpihak pada budaya, berpijak pada lokalitas, dan menembus batas ruang kelas. Pendidikan dasar, lanjutnya, seharusnya tidak hanya menumbuhkan kemampuan kognitif, tetapi juga karakter, kebanggaan, serta kesadaran terhadap akar budaya sendiri.

Dalam sesi diskusi terbuka, para reviewer dan peserta memberikan rekomendasi penguatan. Buku-buku EVI MAP disarankan agar dilengkapi pengantar teoretis yang menjelaskan konsep etnosains secara sederhana, disertai peta visual interaktif dan soal berbasis proyek. Rubrik asesmen yang menilai proses berpikir siswa dinilai penting agar hasil belajar tidak hanya dilihat dari angka, tetapi juga dari argumentasi dan strategi yang digunakan siswa. Refleksi guru pun perlu ditambahkan agar pembelajaran menjadi pengalaman reflektif yang berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan peluncuran resmi tiga puluh buku EVI MAP berbasis numerasi. Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, S.STP., M.Si., secara simbolis melaunching karya para guru tersebut dan mengaku takjub dengan hasil yang di luar ekspektasi. “Saya tidak menyangka, hasilnya sebagus ini,” ujarnya dalam forum yang dimoderatori oleh Dian Marta Wijayanti itu.

Dari keseluruhan hasil review, proyek EVI MAP dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara nasional. Para ahli merekomendasikan agar buku-buku tersebut diberi ISBN dan dijadikan model pembelajaran numerasi kontekstual di berbagai daerah. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Contextual Teaching and Learning dan nilai-nilai Kurikulum Merdeka yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran.

FGD EVI MAP akhirnya menjadi tonggak penting dalam perjalanan pendidikan di Kota Semarang. Acara ini bukan sekadar forum akademik, melainkan gerakan kebudayaan yang menjadikan belajar sebagai cara memahami kehidupan. Di tengah tantangan rendahnya literasi dan numerasi nasional, para guru di Kota Semarang menunjukkan arah baru: menghadirkan sains dari kampung sendiri, membangun konsep dari tradisi, dan menjadikan budaya sebagai jantung pembelajaran. Melalui EVI MAP, anak-anak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar menghargai warisan pengetahuan leluhur yang kini menjadi bagian dari sains modern.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Pendamping Proyek Literasi Numerasi Normalia Eka Pratiwi, S.Pd.SD., M.Pd., perwakilan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kota Semarang, serta sejumlah guru penulis buku dari berbagai sekolah di Kota Semarang. (*)

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‎INISNU Borong Tiga Penghargaan Anugeran LPTNU 2026 di UNUSA

    ‎INISNU Borong Tiga Penghargaan Anugeran LPTNU 2026 di UNUSA

    • calendar_month Rab, 11 Mar 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 306
    • 0Komentar

    ‎ ‎Surabaya — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih tiga penghargaan dalam ajang Anugerah LPTNU 2026 Strategic Leadership Forum & Malam Anugerah LPTNU “Connecting Leadership, Serving The Nation” yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama di Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Selasa (10/3/2026). ‎ ‎Tiga penghargaan tersebut […]

  • 103 Guru Banjarnegara Lulus Pelatihan Koding dan AI, Dindikpora Minta Implementasi Segera

    103 Guru Banjarnegara Lulus Pelatihan Koding dan AI, Dindikpora Minta Implementasi Segera

    • calendar_month Ming, 12 Okt 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 406
    • 0Komentar

      BANJARNEGARA – Sebanyak 103 guru di Kabupaten Banjarnegara dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah menuntaskan Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Tahap 1. Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Banjarnegara mendesak para pengajar segera mengimplementasikan materi tersebut di sekolah masing-masing. Penutupan pelatihan yang berlangsung selama tiga bulan, sejak 13 Juli hingga 12 Oktober 2025, […]

  • Inilah Capaian Medali Ma’arif Temanggung di Ajang Porsema XIII

    Inilah Capaian Medali Ma’arif Temanggung di Ajang Porsema XIII

    • calendar_month Jum, 19 Sep 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 602
    • 0Komentar

      Hariannu.com.‎Temanggung – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-96 Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) PCNU Kabupaten Temanggung digelar dengan khidmat di Aula KBIHU Babussalam NU Temanggung, Kamis (18/9/2025). Acara ini dihadiri oleh seluruh kepala madrasah dan sekolah di lingkungan LP Ma’arif NU se-Kabupaten Temanggung. ‎Ketua LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Temanggung, Miftahul Hadi, […]

  • BAPPERIDA Paparkan Potensi Riset dan Inovasi Daerah di INISNU

    BAPPERIDA Paparkan Potensi Riset dan Inovasi Daerah di INISNU

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 347
    • 0Komentar

      Hariannu.com Temanggung — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar Workshop Penguatan Kapasitas SDM INISNU dalam Bidang Riset dan Inovasi pada Kamis (6/11/2025) di Aula INISNU Temanggung. Kegiatan ini merupakan kolaborasi INISNU dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Temanggung. Hadir sebagai narasumber Sekretaris […]

  • Juri Puisi Porsema Sebut Puisi adalah Soal Kejujuran Hati, Bukan Soal Pakaian

    Juri Puisi Porsema Sebut Puisi adalah Soal Kejujuran Hati, Bukan Soal Pakaian

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 568
    • 0Komentar

    Wonosobo — Ajang Lomba Cipta dan Baca Puisi Religi dalam Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII LP Ma’arif NU Jawa Tengah yang digelar di Wonosobo tak hanya menyajikan panggung ekspresi seni, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sastra. Hal ini ditegaskan oleh tim juri dari kalangan sastrawan Pati, yang memberikan catatan penting sebagai evaluasi bersama. […]

  • Kolaborasi Riset Dosen UNWAHAS dan INISNU Kembangkan Game Gemar Sindosu Angkat Kearifan Lokal Sindoro Sumbing

    Kolaborasi Riset Dosen UNWAHAS dan INISNU Kembangkan Game Gemar Sindosu Angkat Kearifan Lokal Sindoro Sumbing

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 253
    • 0Komentar

      Temanggung — Kolaborasi lintas perguruan tinggi kembali ditunjukkan dalam pengembangan inovasi pendidikan berbasis budaya lokal. Tim dosen dari Universitas Wahid Hasyim Semarang (UNWAHAS) dan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU) berkolaborasi mengembangkan game edukasi Gemar Sindosu (Game Edukasi Multimodal Anak Nusantara Sindoro Sumbing) sebagai media pembelajaran berbasis budaya lokal di wilayah Temanggung. Kolaborasi riset […]

expand_less