Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Pendanaan Pesantren Jadi Sorotan, Majelis Masyayikh Tegaskan Kewajiban Konstitusional Negara

Pendanaan Pesantren Jadi Sorotan, Majelis Masyayikh Tegaskan Kewajiban Konstitusional Negara

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Rab, 3 Jun 2026
  • visibility 224
  • comment 0 komentar

Jakarta— Perdebatan mengenai pendanaan pesantren kembali mengemuka dalam sidang pengujian Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren di Mahkamah Konstitusi. Dalam keterangannya sebagai Pihak Terkait pada Perkara Nomor 75/PUU-XXIV/2026 tanggal 3 Juni 2026, Majelis Masyayikh menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk membiayai pendidikan pesantren karena pesantren merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional.

Majelis Masyayikh berpandangan bahwa persoalan mendasar dalam Pasal 48 UU Pesantren bukan hanya terletak pada frasa “sesuai dengan kemampuan keuangan negara”, tetapi juga pada penggunaan frasa “membantu pendanaan penyelenggaraan pesantren”. Menurut lembaga yang bertugas menjamin mutu pendidikan pesantren tersebut, penggunaan kata “membantu” telah menggeser posisi negara dari pihak yang berkewajiban menjadi sekadar pemberi bantuan.

Ketua Majelis Masyayikh, Abdul Ghofarrozin, menjelaskan bahwa sejak negara mengakui pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional melalui UU Pesantren, maka seluruh konsekuensi konstitusional di bidang pendidikan juga harus berlaku terhadap pesantren.

“Pesantren melaksanakan fungsi pendidikan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Karena itu, negara tidak dapat diposisikan hanya sebagai pihak yang membantu, melainkan memiliki tanggung jawab konstitusional untuk membiayainya,” ujar Abdul Ghofarrozin dalam keterangannya di hadapan Mahkamah Konstitusi.

Pandangan tersebut berangkat dari pembacaan menyeluruh terhadap Pasal 31 UUD 1945. Menurut Majelis Masyayikh, konstitusi tidak hanya mewajibkan negara menyelenggarakan pendidikan, tetapi juga mengembangkan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam perspektif itu, pesantren justru menjadi salah satu institusi pendidikan yang paling dekat dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana dirumuskan oleh konstitusi. Sejak awal berdirinya, pesantren menempatkan pembinaan keimanan, pembentukan karakter, pengembangan akhlak, serta penguasaan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama pendidikan.

Karena itu, menurut Majelis Masyayikh, tidak terdapat alasan konstitusional untuk menempatkan pesantren di luar tanggung jawab pembiayaan negara.

Antara Rekognisi dan Kewajiban Negara

Secara historis, pesantren memang lahir, tumbuh, dan berkembang dari masyarakat. Karakter tersebut kemudian diakui dalam UU Pesantren yang menempatkan masyarakat sebagai salah satu sumber pendanaan pesantren.

Namun, Majelis Masyayikh menegaskan bahwa pengakuan terhadap partisipasi masyarakat tidak boleh ditafsirkan sebagai pelepasan tanggung jawab negara.

Menurut lembaga tersebut, partisipasi masyarakat dan kewajiban negara merupakan dua instrumen yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Negara tetap memikul tanggung jawab utama karena pesantren telah diakui sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan nasional.

Dalam argumentasi yang disampaikan kepada Mahkamah Konstitusi, Majelis Masyayikh bahkan mengungkap sejarah pembentukan Pasal 48 UU Pesantren. Berdasarkan pengalaman langsung para perumus undang-undang, konstruksi awal yang diperjuangkan sebenarnya adalah negara wajib membiayai pesantren.

Akan tetapi, karena pada saat itu skema penganggaran yang tersedia masih bertumpu pada mekanisme hibah, maka digunakanlah frasa “membantu pendanaan penyelenggaraan pesantren”. Dengan kata lain, penggunaan kata “membantu” bukanlah pilihan ideologis ataupun konstitusional, melainkan kompromi teknis dalam sistem fiskal yang berlaku saat pembahasan undang-undang.

“Negara tetap wajib membiayai pendidikan pesantren sebagaimana diamanatkan dalam konstruksi Pasal 31 UUD 1945 sehingga frasa ‘membantu pendanaan penyelenggaraan pesantren’ melenceng dari amanat konstitusi,” tegas Abdul Ghofarrozin.

Menyoal Ketidakadilan Konstitusional

Argumentasi Majelis Masyayikh tidak berhenti pada persoalan semantik kata “membantu”. Lembaga tersebut menilai penggunaan frasa tersebut telah menimbulkan dampak nyata berupa ketidakpastian hukum dan ketidakadilan konstitusional.

Dalam praktiknya, banyak pemerintah daerah menafsirkan ketentuan tersebut sebagai dasar bahwa pendanaan pesantren bersifat opsional. Akibatnya, dukungan anggaran terhadap pesantren sering kali hanya diberikan melalui skema hibah yang tidak tetap, berbasis proposal, bergantung pada kemampuan fiskal daerah, bahkan tidak jarang dihapus sama sekali dari APBD.

Kondisi tersebut menciptakan situasi yang paradoksal. Di satu sisi, negara mengakui pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Namun di sisi lain, negara tidak memberikan jaminan pendanaan yang setara sebagaimana diberikan kepada institusi pendidikan lainnya.

Dalam perspektif hukum tata negara, keadaan ini berpotensi menimbulkan perlakuan yang tidak setara (unequal treatment) terhadap santri sebagai warga negara. Padahal Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 menjamin kepastian hukum yang adil serta perlindungan dari perlakuan diskriminatif.

Apabila sekolah umum memperoleh jaminan pembiayaan sebagai bagian dari kewajiban negara, sementara pesantren hanya memperoleh kemungkinan bantuan berdasarkan kemampuan dan kebijakan pemerintah, maka muncul disparitas perlakuan terhadap dua institusi yang sama-sama menjalankan fungsi pendidikan nasional.

Menempatkan Pesantren dalam Arsitektur Konstitusi
Bagi Majelis Masyayikh, pokok persoalan perkara ini sesungguhnya bukan semata-mata mengenai anggaran, melainkan mengenai bagaimana konstitusi memandang kedudukan pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

Apabila pesantren diakui sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional, maka konsekuensinya negara harus menempatkan pendanaan pesantren sebagai kewajiban konstitusional, bukan sekadar kebijakan afirmatif yang dapat diberikan atau tidak diberikan.

Pandangan ini sekaligus menegaskan bahwa penguatan pesantren tidak boleh diposisikan sebagai bentuk belas kasihan negara kepada lembaga pendidikan berbasis masyarakat. Sebaliknya, dukungan pembiayaan merupakan manifestasi tanggung jawab negara dalam memenuhi hak konstitusional warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Melalui keterangannya di Mahkamah Konstitusi, Majelis Masyayikh berharap penafsiran terhadap Pasal 48 UU Pesantren dapat dikembalikan pada semangat asli UUD 1945, yakni negara hadir sebagai penanggung jawab utama pendidikan nasional, termasuk pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren.

Perkara Nomor 75/PUU-XXIV/2026 pun tidak lagi sekadar menguji satu pasal dalam UU Pesantren. Lebih dari itu, perkara ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali posisi pesantren dalam arsitektur konstitusi Indonesia: apakah pesantren benar-benar dipandang setara sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, atau masih ditempatkan sebagai entitas pendidikan yang sekadar layak untuk “dibantu”. (*)

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 479
    • 0Komentar

      Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah juga diisi dengan kegiatan kemah wisata ke kawasan Candi Gedong Songo, Bandungan, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (17/12/2025) sebagai bagian dari pembelajaran luar ruang bagi para peserta. Ratusan peserta tampak antusias mengikuti jelajah kawasan wisata sejarah tersebut. Selain mengenal situs cagar budaya, […]

  • GP Ansor Desak Pemkab dan DPRD Pati Segera Terbitkan Perda Ketertiban

    GP Ansor Desak Pemkab dan DPRD Pati Segera Terbitkan Perda Ketertiban

    • calendar_month Kam, 20 Agu 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 110
    • 0Komentar

    PATI — Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Pati Desak penyusunan Peraturan Daerah (Perda) baru yang secara komprehensif mengatur ketertiban dan ketenteraman masyarakat. Dorongan tersebut mencuat di tengah kembali menghangatnya polemik penggunaan sound horeg di sejumlah wilayah Kabupaten Pati. Persoalan tersebut dinilai mendesak dan tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan yang bersifat sementara, tetapi […]

  • Sako Ma'arif NU Wonosobo adakan Perkemahan PERBHASAMA III

    Sako Ma’arif NU Wonosobo adakan Perkemahan PERBHASAMA III

    • calendar_month Kam, 3 Sep 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 78
    • 0Komentar

    WONOSOBO, 3 September 2026 – Ribuan Pramuka Penggalang dan Penegak dari sekolah dan madrasah di bawah LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo mulai memadati Bumi Perkemahan Jlamprang, Kamis (3/9/2026). Sebanyak 3.160 peserta mengikuti Perkemahan Bhakti dan Giat Prestasi Sako Ma’arif NU (PERBHASAMA) III yang digelar hingga Sabtu (5/9/2026). Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati […]

  • FKPT Jawa Tengah Dorong Penguatan Pendidikan Damai Pasca Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    FKPT Jawa Tengah Dorong Penguatan Pendidikan Damai Pasca Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 454
    • 0Komentar

      Hariannu.com Semarang – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah menyampaikan rasa prihatin dan empati yang mendalam atas peristiwa ledakan yang terjadi di lingkungan SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025) kemarin. Peristiwa tersebut menjadi duka sekaligus pembelajaran bersama tentang pentingnya memperkuat ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan berkarakter damai. Ketua FKPT Jawa Tengah, Dr. Hamidulloh […]

  • ‎Dosen INISNU Temanggung Bedah Disorientasi Imperialisme Global dalam Seminar Internasional bersama Tezpur University

    ‎Dosen INISNU Temanggung Bedah Disorientasi Imperialisme Global dalam Seminar Internasional bersama Tezpur University

    • calendar_month Jum, 13 Feb 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 352
    • 0Komentar

    ‎ ‎Temanggung – Dr. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H., dosen sekaligus Direktur Program Pascasarjana Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, memaparkan materi krusial mengenai dinamika kekuasaan dunia dalam seminar internasional bertajuk “Disorientation of Global Imperialism”. Presentasi ini menyoroti bagaimana pola penjajahan telah berevolusi dari pendudukan fisik menjadi kontrol digital dan ekonomi yang kerap tidak disadari oleh […]

  • Karnaval Nusantara Meriahkan Kemah Kemanusiaan

    Karnaval Nusantara Meriahkan Kemah Kemanusiaan

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 414
    • 0Komentar

      Karnaval Nusantara menjadi puncak kemeriahan Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah yang digelar di Buper Candrabirawa, Ungaran. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua Sako Pandu Ma’arif PBNU, Mujiburrahman. Peserta dari berbagai kabupaten dan kota tampil mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. Arak-arakan budaya tersebut menampilkan kekayaan tradisi Nusantara yang memukau para […]

expand_less