Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Warta » Kolaborasi Riset Dosen UNWAHAS dan INISNU Kembangkan Game Gemar Sindosu Angkat Kearifan Lokal Sindoro Sumbing

Kolaborasi Riset Dosen UNWAHAS dan INISNU Kembangkan Game Gemar Sindosu Angkat Kearifan Lokal Sindoro Sumbing

  • account_circle Harian NU
  • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
  • visibility 75
  • comment 0 komentar

 

Temanggung — Kolaborasi lintas perguruan tinggi kembali ditunjukkan dalam pengembangan inovasi pendidikan berbasis budaya lokal. Tim dosen dari Universitas Wahid Hasyim Semarang (UNWAHAS) dan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU) berkolaborasi mengembangkan game edukasi Gemar Sindosu (Game Edukasi Multimodal Anak Nusantara Sindoro Sumbing) sebagai media pembelajaran berbasis budaya lokal di wilayah Temanggung.

Kolaborasi riset ini dipimpin oleh dosen UNWAHAS, Ersila Devy Rinjani, M.Pd. sebagai ketua tim peneliti, dengan anggota Ulya Himawati, M.Pd. dan Nugroho Eko Budiyanto, S.T., M.Kom. dari UNWAHAS, serta melibatkan dosen INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd. sebagai anggota peneliti. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata sinergi akademik dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital.

Sebagai bagian dari rangkaian penelitian, tim peneliti menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan Pengembangan Game Edukasi Gemar Sindosu pada Rabu, 23 April 2026 di Ndalem Kemantenan Homestay, Kranggan, Temanggung. Kegiatan ini dihadiri puluhan guru MI/SD, perwakilan kepala sekolah, serta akademisi dari berbagai lembaga pendidikan di wilayah Temanggung.

FGD diawali dengan registrasi peserta pada pukul 12.30 WIB, dilanjutkan pembukaan oleh pembawa acara, sambutan Ketua Tim Peneliti Ersila Devy Rinjani, M.Pd., serta sambutan dari pimpinan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung yang secara resmi membuka kegiatan.

Dalam sambutannya, Ersila Devy Rinjani, M.Pd., menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi sangat penting untuk menghasilkan produk pendidikan inovatif yang berbasis kebutuhan masyarakat.

“Pengembangan game edukasi Gemar Sindosu tidak hanya bertujuan menciptakan media pembelajaran digital, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya lokal melalui pendekatan teknologi,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ersila juga memaparkan storyboard dari Gemar Sindosu yang sudah didesain awal sebagai draft untuk diberi masukan, kritik, dan saran dari para peserta dan narasumber FGD.

Kegiatan FGD menghadirkan narasumber pakar pendidikan dasar yang juga Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan INISNU Temanggung, Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., menyoroti pentingnya memahami karakteristik anak usia sekolah dasar dalam pengembangan game edukasi.

Mahasiswa S3 Pendidikan Dasar UNY itu menjelaskan bahwa anak-anak di era digital cenderung lebih tertarik pada media visual dan interaktif. Oleh karena itu, penggunaan game sebagai media pembelajaran menjadi solusi strategis untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

“Game edukasi berbasis etnopedagogi dapat menjadi jembatan antara teknologi modern dan kearifan lokal. Anak-anak tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga mengenal budaya daerahnya sendiri,” ujarnya.

Dalam sesi pemaparan kedua, pengkaji budaya sekaligus Wakil Rektor II Bidang SDM dan Kemahasiswaan Dr. Joni, M.Pd.,B.I., menjelaskan pentingnya integrasi unsur budaya lokal dalam desain konten game. Ia menyampaikan bahwa data budaya yang digunakan dalam pengembangan game diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan tokoh masyarakat di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, termasuk tokoh lokal yang memahami tradisi setempat.

Menurut mantan Ketua Pusat Budaya dan Kajian Publik INISNU Temanggung itu, kawasan Sindoro–Sumbing memiliki kekayaan tradisi, cerita rakyat, dan simbol budaya yang sangat potensial dijadikan materi pembelajaran berbasis digital.

“Budaya lokal di kawasan Sindoro dan Sumbing memiliki nilai edukatif yang tinggi. Jika dikemas dalam bentuk game, anak-anak akan lebih mudah memahami sekaligus mencintai budaya daerahnya,” jelasnya.

Joni juga menjelaskan beberapa nilai dan local wisdom yang didapatkan dari hasil observasi dan wawancara dengan sejumlah tokoh di lereng Sindoro dan Sumbing, salah satunya adalah Pak Topo. “Hasil wawancara saya, anak-anak di lereng Sindoro atau Sumbing itu lebih mengenal budaya populer, daripada budayanya sendiri,” kata Joni.

Bahkan, menurut dia, ada fenomena Bahasa Indonesia yang dijawakan. Fenomena seperti ini menjadi bukti bahwa perlu solusi strategis agar budaya terjaga.

Sesi diskusi dalam FGD berlangsung interaktif dengan melibatkan guru, akademisi, dan tim pengembang. Para peserta memberikan berbagai masukan terhadap rancangan storyboard game Gemar Sindosu, terutama terkait konten budaya lokal dan strategi pembelajaran berbasis game.

Beberapa rekomendasi penting yang dihasilkan dalam FGD antara lain perlunya integrasi nilai budaya lokal wilayah Kedu, penguatan unsur literasi digital, serta pengembangan fitur kolaboratif yang memungkinkan siswa belajar secara interaktif.

Selain itu, pengembangan game ini mengusung tiga prinsip utama, yaitu edukatif, interaktif, dan kolaboratif. Prinsip tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi anak-anak di kawasan Sindoro–Sumbing dan sekitarnya.

Sebagai anggota tim peneliti dari INISNU, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd. menegaskan bahwa kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi kunci dalam menghasilkan inovasi pendidikan yang berkelanjutan.

Menurutnya, sinergi antara akademisi, budayawan, dan praktisi teknologi akan mempercepat lahirnya media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

“Pengembangan game edukasi seperti Gemar Sindosu bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga investasi budaya. Dengan kolaborasi lintas perguruan tinggi, kita dapat menghasilkan produk pendidikan yang lebih berkualitas dan berdampak luas,” tegasnya.

Kegiatan FGD ditutup dengan penyampaian simpulan hasil diskusi serta rekomendasi pengembangan storyboard sebagai dasar produksi tahap selanjutnya. Melalui kolaborasi riset antara Universitas Wahid Hasyim Semarang dan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung, pengembangan game Gemar Sindosu diharapkan menjadi model inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal yang mampu meningkatkan minat belajar siswa sekaligus melestarikan kekayaan budaya Nusantara. (*)

  • Penulis: Harian NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Asesor, Tiang Penopang Kompetensi: LSP Ma’arif Jateng Cetak Penguji Baru

    Asesor, Tiang Penopang Kompetensi: LSP Ma’arif Jateng Cetak Penguji Baru

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 284
    • 0Komentar

      Hariannu.com Semarang – Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P2 Ma’arif Jawa Tengah menggelar Diklat Asesor Kompetensi di Hotel Siliwangi, Semarang, pada 28 Oktober hingga 1 November 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 35 calon asesor dari berbagai daerah yang siap memperkuat pelaksanaan sertifikasi di lingkungan pendidikan Ma’arif NU dan dari LPK Pengembangan Energi & Mineral Indonesia […]

  • Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 285
    • 0Komentar

      Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah juga diisi dengan kegiatan kemah wisata ke kawasan Candi Gedong Songo, Bandungan, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (17/12/2025) sebagai bagian dari pembelajaran luar ruang bagi para peserta. Ratusan peserta tampak antusias mengikuti jelajah kawasan wisata sejarah tersebut. Selain mengenal situs cagar budaya, […]

  • ‎Dosen INISNU Temanggung Bedah Disorientasi Imperialisme Global dalam Seminar Internasional bersama Tezpur University

    ‎Dosen INISNU Temanggung Bedah Disorientasi Imperialisme Global dalam Seminar Internasional bersama Tezpur University

    • calendar_month Jum, 13 Feb 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 180
    • 0Komentar

    ‎ ‎Temanggung – Dr. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H., dosen sekaligus Direktur Program Pascasarjana Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, memaparkan materi krusial mengenai dinamika kekuasaan dunia dalam seminar internasional bertajuk “Disorientation of Global Imperialism”. Presentasi ini menyoroti bagaimana pola penjajahan telah berevolusi dari pendudukan fisik menjadi kontrol digital dan ekonomi yang kerap tidak disadari oleh […]

  • Diskusi Publik, Gus Ulil Wonosobo Sebut Sistem Khilafah bukan Produk Alquran

    Diskusi Publik, Gus Ulil Wonosobo Sebut Sistem Khilafah bukan Produk Alquran

    • calendar_month Sen, 2 Jun 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 541
    • 0Komentar

    Hariannu.com-Temanggung – – Dalam rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila, Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Temanggung menggelar Diskusi Publik bertajuk “Temanggung Untuk Semua: Di Bawah Naungan Pancasila, Dari Temanggung untuk Indonesia,” pada Minggu (1/6/2025) di Pendopo Pengayoman Temanggung. Sebelum diskusi publik dimulai, kegiatan diawali dengan Deklarasi Kembali Ke Pangkuan NKRI yang […]

  • Ponpes Al-Asas Kajen Gelar Nobar 'Pesta Babi', Ajak Santri Bedah Permasalahan Ekologi di Papua

    Ponpes Al-Asas Kajen Gelar Nobar ‘Pesta Babi’, Ajak Santri Bedah Permasalahan Ekologi di Papua

    • calendar_month Jum, 15 Mei 2026
    • account_circle Harian NU
    • visibility 53
    • 0Komentar

      PATI – Halaman Pondok Pesantren Al-Asas Mubtadi’in, Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, dipadati ratusan santri dan masyarakat umum pada Kamis (14/5/2026) malam. Mereka berkumpul untuk menghadiri acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter terbaru karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. ​Pengasuh Ponpes Al-Asas, Muhammad […]

  • Gus Rozin: Sakomanu Beda dengan Sako Lain

    Gus Rozin: Sakomanu Beda dengan Sako Lain

    • calendar_month Sab, 10 Mei 2025
    • account_circle Harian NU
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Hariannu.com-Semarang – Ketua Majelis Pembimbing Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama (Sakomanu) Jawa Tengah, KH. Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab disapa Gus Rozin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya pengakuan generasi milenial terhadap Nahdlatul Ulama (NU). “Dari data yang kami terima, hanya sekitar 8 persen generasi milenial yang mengakui dan merasa memiliki NU. Ini tentu sangat […]

expand_less